Minggu, 23 Juli 2023

Refleksi Kesuksesan Hasil Kombinasi Antara Faktor Family-Privilege-Circle (Studi Komparasi Uzumaki Naruto dan Rock Lee)


Kita sering melihat banyak tulisan yang menyangkal kisah orang-orang sukses yang ada di dunia (seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates atau Mark Zuckerberg) yang memulai karirnya dari nol. Kisah sangkalan itu menyebutkan bahwa tokoh-tokoh terkenal mendapat bantuan baik dari keluarga, atau secara intelektual mereka ditakdirkan "lebih" ataupun juga lingkaran pertemanannya yang membuat dia menjadi nomor satu di bidangnya. Bahwa kalimat "semua orang bisa menjadi sukses" atau "semua orang bisa menjadi orang nomor satu dengan dimulai dari nol" adalah suatu hal yang menyesatkan. Suka tidak suka mungkin kita sudah banyak dilenakan oleh kata-kata para motivator akan tetapi terkadang kita melupakan detail-detail yang bisa kita pelajari dari masing-masing kasus orang sukses itu.

 

Hal itu pula sering dinarasikan oleh mangaka-mangaka kesayangan kita seperti Akira Toriyama di komik Dragon Ball atau Eiichiro Oda pada komik One Piece atau yang terakhir dan ingin saya kupas dalam pada tulisan ini, Masashi Kishimoto di komik Naruto. Pada Tulisan ini saya ingin lebih memfokuskan pada dua tokoh dalam komik Naruto yaitu Naruto Uzumaki. Dalam tulisan saya akan membandingkan Naruto dengan satu karakter yang menurut saya memiliki visi dan prinsip yang sama yaitu bekerja keras namun besar dengan lingkungan yang berbeda jika dilihat dari faktor family, privilege yang dimiliki serta circle tumbuh kembang. Karakter tsb adalah Rock Lee

 

Family

Naruto lahir dari orangtua yang bisa dikatakan seorang shinobi yang luar biasa. Ayahnya, Minato Namikaze adalah seorang wunderkind atau prodigy, shinobi jenius diusia muda sudah menjadi pahlawan Konoha pada Perang Dunia Shinobi lalu kemudian diangkat menjadi Hokage sedangkan ibunya diberkahi oleh kecerdasan yang luar biasa yang bernama Uzumaki Kushina yang berasal dari keluarga yang memiliki rekam jejak panjang serta memiliki warisan ninjutsu yang sangat langka. Kedua kombinasi ini sudah merupakan jaminan modal bahwa Naruto sangat mungkin tumbuh menjadi shinobi yang jenius pula.

Di lain latar belakang keluarga Rock Lee bisa tidak dinampakkan baik dalam cerita canon Naruto maupun sidestory yang lain namun bisa kita simpulkan ia terlahir dari keluarga biasa. Hal ini nampak pada arc Ujian Chuunin saat Rock Lee bercerita bahwa Neji Hyuuga terlahir dari keluarga elit dan bagaimana Rock Lee lebih memandang martabat keluarga Neji Hyuuga lebih tinggi tadi dapat menjadi asumsi bahwa Rock Lee bukan berasal dari klan yang terpandang.

 

 

Privilege

 

Rock Lee terlahir dari klan yang kurang elit kemudian bertumbung dengan dididik sangat ketat dan penuh rasa sayang “hanya” oleh Guru Guy selama masa Pendidikan Genin-Chunin-Jonin (saya menulis ini tanpa mengurangi rasa hormat pada Guru Guy yang merupakan karakter favorit saya). Merasa tidak memiliki bakat dalam genjutsu dan ninjutsu, Rock Lee fokus pada visi, determinasi dan disiplin ketat dalam mengeksploitasi kemampuan fisiknya untuk menjadikannya jenius dalam bidang taijutsu.

Naruto dan Rock Lee sama-sama tumbuh besar sebagai anak yatim piatu, fakta bahwa ayah Naruto, Minato Namikaze sang Jenius Hokage ke-4 meninggalkan tidak hanya harta untuk kehidupan Naruto tetapi juga mewariskan separuh kekuatan dari Kyuubi di dalam perut Naruto sebagai modal awal Naruto menjadi tumbuh besar menjadi seorang Ninja yang sukses di dalam lingkungannya.

Naruto sejak kecil sudah dididik dan sudah diberikan perlakuan khusus oleh Hokage ke-3 seperti akses pendidikan ke mentor-mentor terbaik seperti Guru Iruka, Kakashi Hatake, Jiraiya yang bisa memberikan pendidikan terbaik untuk Naruto sesuai dengan psikis Naruto sebagai Jinchuriki Kyuubi.

Meskipun Rock Lee dalam usia muda ia telah menguasai Urarenge dan Hachimon Tonkou No Jin namun dalam perkembangan jangka panjangnya, jika dibandingkan dengan Naruto terutama pada akhir Perang Dunia Shinobi 4) tentunya tidak heran kalau bisa dibilang Rock Lee masih jauh tertinggal daripada Naruto

 

 

Circle

Kombinasi terakhir yg membuat kesuksesan karir Naruto di dunia shinobi menjadi suatu keniscayaan adalah Naruto bertumbuhkembang di lingkungan dimana para orang-orang hebat berada. Sejak masa Ujian Chunin hingga senjakala Perang Dunia Shinobi Ke-4, Naruto selalu dikelilingi dan berkompetisi dengan orang terbaik. Mulai dari Haku si anak jenius yang dididik Zabuza Momochi, Gaara yang kelak menjadi Kazekage, singgungan dengan Trio Sannin Legendaris untuk memacu Naruto menguasai Rasengan, perkawanan Naruto dengan Ninja andalan Kumogakure, Killer Bee. Semua membuat Naruto matang tidak hanya dari segi bawaan genetik, pendidikan tapi juga kompetisi ketat yang membuat karir Naruto meroket hingga nantinya kelak menjadi orang nomor satu di Desa Konoha.

Disisi lain, Rock Lee tetap berada di Desa Konoha. Meskipun tetap dalam lingkungan shinobi yang cukup kompetitif seangkatannya (Neji, Tenten, Shino, Kiba, dkk), tekun menjalankan misi yang mendatangkan devisa bagi negerinya, ia mampu mencapai kelas Chunin tanpa ada perlakuan-perlakuan khusus. Namun tetap saja yang hanya akan menjadi "prajurit biasa" yang bahkan hingga akhir Perang Dunia Shinobi Ke-4 kurang nampak "kilaunya" meskipun sudah berprinsipkan "Jenius dalam Bekerja Keras".

 

Saya membuat tulisan ini tidak untuk men-demotivasi kita semua untuk mencapai apa yang kita cita-citakan. Namun sebagai manusia kadang kala juga harus realistis terhadap apa yang kita kejar. Sehingga saat kita mengejar cita-cita dan kemudian tidak terlaksana kita tidak patah arang dan menyalahkan Tuhan dan keadaan serta bersyukur dengan apa yang kita dapat sekarang.

Pada akhirnya semua orang, tua muda, tetap harus bercita-cita tinggi serta bekerja keras-cerdas dalam hidup sesuai pesan dalam komik Naruto. Kelak saat kita melihat kembali dan membandingkan diri kita dengan rekan sejawat yang mungkin lebih sukses, kita harus menyadari apakah kita betul-betul diberkahi Tuhan seperti Naruto dengan faktor family-privilege-circle nya atau kita ternyata cukup sebagai Rock Lee, shinobi yang tak secemerlang Naruto, yang bertumbuh kuat dilingkungan biasa disokong dirinya sendiri yang bekerja keras kemudian hidup bahagia.

 

W. Pramannitou

Pembaca One Piece yang sering overthinking.

Bisa dicek di IG @valconnizer

*Tulisan pernah diunggah di kanal IG dengan akun PNMEDIAID, 13 Juni 2022


Zoro, Nami dan Usopp: Cara Pandang Eichiro Oda dalam Bagaimana Seharusnya Manusia Berproses Untuk Menjadi Lebih Baik


“Kamu harus menerima kenyataan bahwa dirimu bukanlah yang terbaik kemudian memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik dari semua orang yang kamu temui” Roronoa Zoro

 

One Piece saat ini sudah manga terbesar diseluruh dunia. Guinness World Record pada tahun 2015 mencatat bahwa One Piece sebagai "the most copies published for the same comic book series by a single author". One Piece juga satu-satunya manga yang selalu menempati posisi nomor satu pada penjualan manga yang dicatat oleh Oricon selama tujuh tahun berturut-turut. Pada Juli 2021, 490 juta eksemplar manga One Piece sudah terjual di 58 negara seluruh dunia. Banyak tokoh penting dan kritikus manga antara lain Hiroyuki Nakano, editor-in-chief majalah Weekly Shonen Jump dan Yoshiyuki Tomino; pencipta anime Mobile Suit Gundam yang memberikan apresiasi tinggi pada Oda-sensei dan One Piece.

Bagi saya pribadi, One Piece mungkin salah satu dari sebagian kecil manga yang patut disejajarkan dengan karya sastra besar dunia seperti seri Sherlock Holmes dan The Lord of The Rings. Proses world-building, kedalaman cerita serta tokoh, ideologi-ideologi, latar belakang kejadian di dunia nyata yang direpresentasikan membuat One Piece memiliki banyak lapisan yang sangat layak untuk dianalisa dan dipelajari lebih dalam.

25 tahun sudah sejak One Piece terbit, kru Bajak Laut Topi Jerami sebagai tokoh-tokoh protagonisnya telah berkembang dari manusia dengan kekuatan “unik” yang berprofesi bajak laut menjadi manusia berkekuatan “setengah dewa” yang berjuang demi kebenaran dan kebebasan di dunia bajak laut. Luffy, Zoro, Nami, Usopp, Sanji, Chopper, Robin, Brook, Franky, dan Jinbei bisa dikatakan sudah berevolusi menjadi manusia super yang tidak hanya mampu menghancurkan suatu bangunan namun bisa mengubah kontur bentuk muka bumi dengan kekuatan mereka.

Dari kesemua kru tsb, hanyalah Nami, Usopp dan Zoro saja yang tidak diberkahi dengan kekuatan buah Iblis atau terlahir dengan kondisi fisik yang berbeda dengan manusia normal. Luffy, Chopper, Robin dan Brook menikmati kekuatan pasca mengkonsumsi buah Iblis dengan dampak yang berbeda-beda. Franky adalah cyborg, Sanji terlahir unggul secara genetis dan kini sudah dilengkapi dengan armored suit sedangkan Jinbei adalah manusia Ikan. Di sisi lain Zoro, Nami dan Usopp betul-betul tumbuh berkembang selayaknya manusia biasa. Berlatih, belajar dan melengkapi dirinya dengan instrument yang mampu menyangga kekuatan yang ada dalam dirinya.
Sejauh pengamatan saya, Zoro, Nami dan Usopp sudah sering ditampilkan Oda-sensei berproses untuk meningkatkan kemampuan mereka masing-masing bahkan sebelum event time-skip pasca arc Marine Ford. Zoro berlatih angkat beban berulang kali dengan perkembangan yang sangat signifikan. Nami sudah dicitrakan berulang kali melengkapi koleksi bukunya serta belajar dari banyak sumber terkait Meteorologi, Geografi dan Geofisika. Usopp pun sering ditunjukkan berlatih menembak, berkreasi di bengkel atau laboratoriumnya. Panel-panel gambar ini sangat mudah ditemui baik dalam cerita maupun cover story. Mereka pun sama-sama memiliki alasan serta cita-cita yang sangat kuat yang menyebabkan mereka rela melakukan berbagai ikhtiar dan usaha tadi. Zoro ingin menjadi pendekar pedang terkuat sembari memastikan tak akan ada yang menghalangi Luffy menjadi Raja Bajak Laut. Nami bercita-cita melengkapi peta dunia dan membawa Luffy mengarungi rute terbaik untuk mencapai Raftel. Usopp bervisi bertemu lagi dengan ayahnya, Yasopp, kemudian menjadi raja penembak ulung sembari meastikan kapal Kru Bajak Laut Topi Jerami mampu bersaing dengan artileri kapal Bajak Laut lain demi mendukung kampanye Luffy menaklukan Grand Line.

Berproses waktu demi waktu sembari melatih diri adalah kunci. Jika merujuk perkataan Uzumaki Naruto “tidak ada jalan pintas.”. Sikap disiplin, persistence, determinasi serta visi yang kuat merupakan syarat wajib lain ketika manusia ingin berubah menjadi lebih baik. Evaluasi diri dari waktu ke waktu juga menjadi kebutuhan. Setelah Zoro menang melawan Kaku saat pertempuran di Enies Lobby, hal pertama yang dia lakukan saat kembali berlayar adalah berlatih kembali di ruang fitness yang ia pesan langsung pada Franky saat membangun kapal Thousand Sunny. Koleksi buku Nami yang menjadi sumber khasanahnya dalam membantu Luffy mengarungi cuaca dan kondisi perairan Grand Line yang sangat dinamis. Usopp berulang kali meningkatkan kualitas senjatanya yang ia bangun sendiri demi merubah statusnya yang biasanya seorang pecundang dalam pertarungan satu lawan satu, contohnya meningkatkan kemampuan ketapelnya dengan Dials dari Skypiea.

 Oda-sensei seolah menanamkan pesan pada kita bahwa hasil instan merupakan suatu dosa. (seperti pada Fishman Island Arc, Hody Jones yang mendapatkan hasil “cepat” menggunakan Energi Steroid justru mudah dikalahkan). Seolah-olah berusaha menyanggah hal yang lumrah pada masa sekarang bahwa jika ingin mencapai kesuksesan maka dapat dicapai dengan cara cepat. Oda-sensei ingin menunjukkan pada kita, para pembacanya bahwa untuk bertumbuh menjadi lebih baik maka berlatih dan belajar dengan tekun adalah suatu keniscayaan.

 

W. Pramannitou

Seorang pemerhati One Piece yang membenci serial Live-actionnya

Bisa dicek di IG @valconnizer

 

*Tulisan pernah diunggah di kanal IG dengan akun PNMEDIAID, 22 Juni 2022


Senin, 17 Juli 2023

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #12 : Terangkatnya Hijab

ketika tabir hijab diangkat
engkau akan melihat senyum-Nya dimanapun engkau menoleh

Di makhluk yang kau tatap, pada ambiens tempat kau berpijak, pada nuansa dan kesan

Dimanapun

Pada saat yang sama, engkau akan mereguk nektar cinta perlahan 

dan berharap agar setiap detik saat kau mencecap nektar itu tak akan pernah berakhir

Selamanya

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #11 : Makhluk

Orang yang gemar berkata "Aku Melihat Tuhan pada Makhluk" adalah orang yang keblinger dan sesat
Mereka tidak melihat Dzat Tuhan pada diri makhluk, namun sesungguhnya melihat Kekuasaan Tuhan begitu nyata terefleksi pada makhluk..
.
Begitulah penjelasan Buya Yahya atau KH Yahya Zainul Maarif saat menjabarkan salah satu hikmah di Kitab Al Hikam. Cukup lama saya memikirkan apa maksud beliau, baru saya sadari begitu melihat foto ini.
.
Saya melihat betapa Tuhan Maha Indah di bola mata makhluk cantik ini.
Saya melihat betapa Tuhan Maha Pencipta ketika makhluk cantik ini lahir.
Saya merasa betapa Tuhan Maha Pengampun ketika sadar betapa berat tugas saya sebagai ayah.
Saya merasa betapa Tuhan Maha Pemurah ketika melewati hari-hari bersamanya.

28 Agustus 2020
....

Jumat, 25 Februari 2022

Kritik Doraemon: Ketersia-siaan Penggunaan Peralatan Ajaib bagi Kemaslahatan Umat Manusia


            Doraemon adalah salah satu dari karakter Animanga yang sangat berpengaruh tidak hanya di Jepang, tapi juga di seantero dunia. Doraemon bahkan sudah dinobatkan sebagai salah satu ikon budaya di Jepang, bahkan banyak sekali mangaka yang terinspirasi oleh karakter Doraemon antara lain Masashi Kishimoto dan mangaka saga One Piece: Eiichiro Oda-Sama. Time Magazine pada tahun 2002 dalam special issue “Asian Hero” menobatkan Doraemon sebagai satu diantara 22 Asian Heroes, lucunya Doraemon adalah satu-satunya karakter fiktif dalam daftar tersebut.  Pengaruh Doraemon pun tak kalah besar di Indonesia terutama pada generasi yang tumbuh besar pada masa “kartun Hari Minggu pagi”. Besarnya pengaruh Doraemon membuat Doraemon menjadi salah satu serial kartun terlama yang pernah ditayangkan di televisi di Indonesia yakni selama 31 tahun yakni sejak 1990 sampai saat ini



            Tumbuh besar ditemani Doraemon (baik berupa manga maupun serial kartunnya) membuat saya yang kini berusia awal 30an terus mengamati dan mencerna mengenai isu-isu utama dalam kisah Doraemon. Melihat Doraemon khususnya penggunaan berbagai alat-alat ajaibnya dengan kacamata seseorang berusia 30an awal dengan latar belakang pendidikan universitas sungguh membuat saya mengelus dada. Alat ajaib Doraemon sesungguhnya bila digunakan dengan cermat dan tepat , pada sektor serta masalah yang vital bagi kepentingan masyarakat banyaj tidak hanya dapat meningkatkan nilai ekonomis, bahkan mampu mendisrupsi keseluruhan hidup manusia. 

            Misal pada penggunaan Taplak Meja Istimewa, sebuah instrumen berteknologi tinggi berbentuk taplak meja yang berfungsi menciptakan berbagai jenis masakan pada dimensi ke-empat dan penggunanya bisa mengambilnya sewaktu-waktu sesuai keinginan berbentuk masakan siap makan dengan rasa yang sudah tidak diragukan lagi serta kuantitas yang besar. Alih-alih menggunakannya hanya sebagai peralatan pendamping saat menemani Nobita berekreasi, Doraemon bisa saja meminjamkan Taplak Meja Istimewa pada UNHCR atau lembaga non-profit lain untuk membantu masalah pasokan makanan di berbagai kamp-kamp pengungsi di Bangladesh atau Yaman. Kasus kelaparan pada pengungsi bencana letusan Tonga pun bisa tidak terjadi jika Taplak Meja Istimewa berada di tangan relawan yang berada di garis depan pasca bencana.

    Pada penggunaan Senter Pengecil, di bawah tanggung jawab negara yang netral, Senter Pengecil dapat digunakan sebagai media untuk menurunkan ego negara-negara aggressor yang sok kuat dengan segala alutsistanya. Semua tank, peluncur roket, jet serta kapal induk milik Rusia dan Amerika yang kini tengah membuat bergidik warga dunia dapat sekejab mata dikecilkan sekaligus menurunkan tensi di Ukraina, disaat demikian Biden dan Putin dapat dipaksa duduk bersama di meja perundingan untuk berdamai. Namun Doraemon malah menggunakan alat yang merevolusi fisika kuantum ini hanya untuk media bermain-main Nobita saja.

    Di era pandemi ini Pintu Kemana Saja adalah instrument yang niscaya dapat mendisrupsi keseluruhan tatanan sistem transportasi dan logistik di dunia. Dengan Pintu Kemana Saja, seseorang tak akan lagi takut untuk berangkat berwisata karena kemungkinan berpapasan dengan orang lain hamper mendekati nol. Efisiensi pergerakan barang dan jasa dapat ditingkatkan hingga berjuta-juta persen dikarenakan bahan mentah di pelosok Sulawesi dapat dalam sekejab berada di pabrik di Cikarang untuk segera di proses. Kemacetan Jakarta secara simultan dapat diselesaikan karena seorang profesional muda yang bekerja di Kemang bisa dengan mudah kembali kerumahnya di Bekasi begitu jam pulang kantor.

    Yang paling mencengangkan, tidak akan ada pertikaian antar agama karena kisah-kisah dalam setiap kitab suci dapat dibuktikan hanya dengan menggunakan Mesin Waktu, yang berarti juga akan merusak pondasi keyakinan semua agama baik mayoritas maupun minoritas di dunia.

    Tragisnya adalah dengan segala potensi-potensi alat-alat ajaibnya yang dapat mengubah tatanan dunia tadi, Doraemon hanya menggunakannya hanya untuk memuaskan ego seorang anak usia 9 tahun


Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #10 : Surabaya Oh Surabaya

Depok. 25 Februari 2022, 2 bulan pasca kepindahan kami dari Surabaya


Saya adalah orang yang sentimentil. Saya gemar mengumpulkan berbagai pernak-pernik memorabilia. Saya suka mengingat lokasi-lokasi tertentu, tanggal-tanggal khusus. Saya menempelkan kenangan dan emosi saya saat mengingat Jogja. Saya suka bersendu-sendu saat berkhayal tentang temaram yang nyaman di sudut kota Solo. Saya teringat hujan dan alunan Katjie & Piering saat berpikir tentang Bandung. Anehnya saya tidak mau melakukan hal itu untuk Surabaya. 

Apakah Surabaya kurang romantis? Kurang romantis apa hujan rintik-rintik sambil ditemani seduhan teh hangat di pojokan kafe di Seputaran Tunjungan.



Apakah Surabaya kekurangan lagu yang bertemakan kota? Surabaya Oh Surabaya dari Sundari Soekotjo, Rek Ayo Rek dari Mus Mulyadi, Tanjung Perak oleh Waldjinah, belum lagi satu album dari Silampukau bertajuk Dosa, Kota dan Kenangan.

Apakah kami tidak punya banyak hal-hal yang sentimentil di Surabaya? Jangan salah, setiap minggu kami bertamasya keliling kota dengan selalu membawa hal yang patut saya simpan ceritanya didalam mind palace saya

Saya hanya tidak mau menyimpan kenangan tentang Surabaya karena bagi saya Surabaya tidak patut saya tinggalkan. Kami ingin tumbuh bersama dan besar di Surabaya. Bagi kami Surabaya adalah kota yang ideal. Ia tidak jauh dari Solo dan Pacitan, kota tempat keempat orang tua kami tinggal. Ia cukup metropolis dimana berbagai macam tempat hiburan dan pusat ekonomi berada, meskipun tidak semegah Jakarta. Ia masih tidak banal dan kejam dengan segala hiruk pikuknya. Ia masih bisa mengajarkan unggah-ungguh serta tatakrama Jawa, namun disaat yang sama juga tetap menawarkan kemodernitasan dan kompetisi.



Kami bersyukur pernah tinggal di Surabaya dan kami berharap dapat kembali tinggal disana, hingga hari tua.


Kata Bersayap #6

It's sad to see how our social relationship has become.


People call each other’s if only they have needs from other people

When people tell others good things, then it will  called "bragging"

When people tell others bad things, then others will say " you only called me for help"


(picture : https://www.dictio.id/t/hal-apa-saja-yang-dapat-membantu-memperbaiki-kehidupan-sosial-masyarakat/36718

Gerakan 30 September : Perjalanan Suatu Keingintahuan

“History has been written by the victors” Sir Winston Churchill.

“What is History? An echo of the past in the future ; a reflect from the future on the past” Victor Hugo


   Memahami apa dan bagaimana sebenarnya Gerakan 30 September adalah salah satu keinginan saya. Saya sampai sekarang juga masih bingung bagaimana ketertarikan begitu dalam terhadap peristiwa tsb. Pada tahun 1996 hingga 1998, sama seperti rekan-rekan sebaya, saya begitu takut sekaligus penasaran setiap mendekati tanggal 30 September karena bayangan kengerian film “Pengkhianatan G 30 S PKI” sudah terbayang di kepala saya. Di tahun-tahun itu pula kedua orangtua saya sering memberikan “spill” mengenai berbagai hal seputar Gerakan 30 September dan implikasinya bagi kehidupan kami. Museum Pemberontakan PKI Sumur Soca di Madiun, perburuan simpatisan PKI tahun ’65-’69, lokasi terbunuhnya Aidit di dekat rumah nenek saya di Surakarta, banyaknya nama jalan yang mengambil nama Pahlawan Revolusi, kultus individu Pak Harto,para Tapol, daftar nama keturunan anggota PKI di Koramil adalah beberapa cerita yang beliau berdua sampaikan pada saya yang saat itu belum lulus SD. Beberapa tahun kemudian baru saya tahu bahwa beberapa moyang jauh dari sisi ayah dan ibu saya ternyata juga terdampak oleh peristiwa Gerakan 30 September karena menjadi anggota Gerwani dan/atau seorang Sukarnois (Moyang saya banyak yang berasal dari Klaten, Surakarta, dan Madiun). Lucunya juga, setelah saya menikah saya baru tahu bahwa kakek istri saya adalah eks anggota RPKAD yang menggunakan rumahnya (yang saat sampai saat ini masih ditinggali ibu mertua saya) di Laweyan, Surakarta sebagai markas sementara saat perburuan anggota PKI tahun ’65. Rumah tsb konon juga sekawasan dengan kantor pertama PKI di Indonesia.

   “Sejarah ditulis oleh para pemenang” ujar Winston Churchill seperti yang saya sampaikan diawal tulisan ini. Di masa Orde Baru, Presiden Suharto mati-matian men-deSukarno-isasi Indonesia, memaklumatkan bahwa PKI adalah iblis penyebab tewasnya para jenderal, menyamaratakan semua dosa anggota PKI, serta memburu mereka. Pendek kata, Presiden Suharto mencoba menuliskan sejarah Indonesia melalui versi beliau. Pasca masa Reformasi 1998 dengan dibukanya keran demokrasi, para peneliti, sejawaran, advokat, LSM, keturunan anggota PKI berlomba-lomba meneliti, membuka kembali dan merekonstruksi kembali sejarah Gerakan 30 September. Banyak diantaranya yang mencoba mengemukan fakta sejarah baru, mendakwa para jenderal yang menurut mereka bersalah serta berusaha membersihkan mereka yang terfitnah. Namun terkadang realitas mengecewakan dan mengkhianati usaha. Sampai saat ini masyarakat awam serta pandangan umum di Indonesia masih beranggapan bahwa PKI dan pengikutnya adalah setan yang seratus persen bertanggung jawab atas kematian enam jenderal, wajar diburu dan wajib dibunuh, berdosa abadi serta harus diwaspadai kebangkitannya. Dalam hal ini bisa dikatakan Presiden Suharto adalah pemenang sejati yang sudah menulis sejarah Gerakan 30 September, mendarah daging dan terpatri di benak masyarakat Indonesia. 

   Apakah saya menyukai ideologi komunis yang dibawa PKI? Ataukah saya bersimpati pada PKI? Jawabnya : sama sekali tidak. Saya merasa pada posisi netral malah terkadang sinis pada PKI. Terlahir seorang muslim dan berusaha menjalankan “laku” selayaknya muslim, saya merasa ide “menjadi ateis” adalah suatu hal konyol. Sebagai makhluk yang baru benar-benar maju dalam 2 milenium ini serta bahkan belum pernah menginjakkan kakinya di Planet Mars, mengucapkan Tuhan itu Tidak Ada adalah hal yang luar biasa sombong dan terlampau tolol. Belum lagi konsep masyarakat komunis yang menurut saya cukup absurd karena sejak jaman munculnya Ledakan Besar hingga invasi Rusia ke Ukraina 2022, Tuhan sudah menetapkan bahwa selalu ada si Kaya dan si Miskin. Kehidupan manusia tanpa kelas adalah utopis. Kekejaman Stalin, Mao, Pol Pot dan bubarnya Uni Soviet adalah stempel legitimasi argumentasi saya. Disisi lain bagaimana kematian 6 orang perwira tinggi militer dan 1 orang perwira menengah dapat mengakibatkan pembunuhan 3 juta orang dan perubahan masif dalam tatanan satu negara membuat saya mengernyitkan alis sembari bergumam “saya harus mencari kebenaran saya sendiri”.

   Berbagai sebab serta motivasi tadi bercampur dengan mudahnya akses terhadap berbagai sumber pengetahuan di era keterbukaan info saat ini semakin menyuburkan keingintahuan saya terhadap sejarah yang masih tertutup kabut tadi. Saya bukanlah seseorang yang ikut-ikutan mencari dan menyuarakan kebenaran seperti para sejarawan atau advokat pembela HAM, atau meminjam istilah Marie Chauvel dalam buku The Davinci Code “ modern troubadour”. Apa yang saya lakukan juga bukan dalam rangka akademis apalagi politis serta jauh dari metode saintifik khas seorang sejarawan. Apa yang saya lakukan selama ini tak lebih dari mengamati, membaca dan melihat. Saya hanyalah seorang penikmat sejarah. Seseorang yang ingin merefleksikan masa lalu sebagai bagian ilmu kebijaksanaan untuk melangkah ke masa depan. Sama seperti yang disampaikan Victor Hugo lebih dari 100 tahun yang lalu. Memegang suluh mencari kebenaran dalam kegelapan sejarah bagi khasanah kebijaksaan hati.

    Saya menggunakan berbagai sumber-sumber referensi, mengoleksi berbagai buku tidak hanya mengenai Gerakan 30 September tapi juga mengenai rentetan-rentetan besar yang sedikit banyak berkontribusi pada peristiwa tsb. Saya juga berusaha menelaah berbagai video baik dikanal youtube atau di media lain berkenaan dengan Gerakan 30 September. Penulis seperti Rex Mortimer serta John Rossa menjadi sering saya baca tulisannya. Istilah seperti Lekra, Angkatan Kelima, Nefo menjadi familiar di telinga saya. Banyaknya sumber bacaan dan pengamatan lain awalnya membuat saya masih menerka-nerka  banyak hal. Buku mengenai kejadian dihari-H pelaksanaan Gerakan 30 September membuat saya mengenali dan membayangkan tindak tanduk pihak-pihak yang terkait dan terdampak peristiwa tsb. Literatur mengenai suasana sosial politik masyarakat tahun 1945-1965 memberikan saya pemahaman mengenai nuansa dan alasan besar kemungkinan penyebab Gerakan 30 September. Referensi mengenai sejarah terbentuknya PKI dan ABRI serta tokoh-tokoh pendirinya memberikan citra visi mereka yang akan terproyeksi pada para penerus masing-masing pihak yang nantinya terkait dan terdampak Gerakan 30 September. Ibarat puzzle, kepingan-kepingan sejarah dari berbagai sumber tadi sudah terkumpul hampir lengkap. Namun bagaimana menyusunnya puzzle tsb adalah perkara lain.

   Tahun 2019 saya membeli buku berjudul “Sukarno, Tentara dan PKI” karya Rosihan Anwar dan di tahun 2022 saya membeli buku “Kronik Abad Demokrasi Terpimpin” karya Koesalah Toer. Kedua buku ini memiliki kesamaan. Dalam kedua buku tersebut disajikan peristiwa yang terjadi dari hari ke hari sejak 1959, tahun permulaan Demokrasi Terpimpin buatan Bung Karno hingga 1967 dimana Bung Karno secara de facto “turun tahta” sebagai presiden Indonesia. Berulang kali saya baca kedua buku itu. Terkadang sekilas lalu, namun acap kali perlahan-lahan. Berasa memahami rangkaian kejadian dari hari ke harinya hingga meletusnya Gerakan 30 September. Puzzle dalam kepala saya perlahan mulai tersusun. Apa yang selama ini tak masuk akal menjadi logis. Ucapan yang disebutkan seorang tokoh 30 tahun sebelum Gerakan 30 September menjadi beralasan. Gerak-gerik tokoh yang terkait dan terdampak menjadi bisa dijelaskan. Semua potongan informasi sejarah yang selama ini saya dapat mulai tersusun rapi, banyak hal bisa mulai dijelaskan. Namun ada secuil bagian di pikiran saya masih gamang. Bagian pikiran yang menjadi kepingan puzzle terakhir di otak saya ini membutuhkan sesuatu yang lain. Ia tak bisa diyakinkan dengan obrolan diskusi, tambahan literatur tambahan atau bahkan cuplikan wawancara dari youtube. Saya memang tak getol berusaha bertanya dengan para akademisi karena tak siap dengan pertanyaan “buat apa Mas tanya-tanya begitu?”. Dengan agak sembrono, saya kemudian teringat Will Graham. Layaknya Will Graham, profiler FBI dalam buku Red Dragon karya Thomas Harris, dengan mendatangi TKP dan mendapatkan kesan dan atmosfer dari TKP suatu pembunuhan tsb ia mendapatkan kilasan dalam kepalanya yang memberikan petunjuk dan bukti. Mungkin yang saya perlukan adalah nuansa, atmosfer, serta ambience yang mungkin dapat memberikan jawaban. Bagi beberapa orang tak masuk akal namun saya yakin  dapat menemukan keping terakhir puzzle saya. Berdasarkan itu saya berniat untuk mendatangi tempat yang disucikan oleh Orde Baru. Tempat sakral yang menjadikan ke-enam jendral martir itu sebagai alasan pembantaian 3 juta simpatisan PKI : Monumen Lubang Buaya.


   Pada1 Februari 2022 saya berkunjung ke Monumen Lubang Buaya. Datang kesana memberikan saya kesan yang ambigu. Meskipun tempatnya sejuk dan rindang, namun tetap membuat kuduk saya berdiri. Pepohonan yang besar dan terawat, parkiran yang luas dan bersih, tapi tetap tidak mampu menyembunyikan bahwa ditempat inilah awal mula sejarah Indonesia berbalik 180 derajat. Setelah parkir saya tidak mengarah ke Museumnya, jujur saya tidak tertarik dengan segala diorama pemberontakan yang disajikan di Museum Pengkhianatan PKI. Bukan untuk itu saya datang kesini. Tujuan saya hanya tiga. Cungkup Sumur Maut, Rumah Tahanan tempat ketujuh korban yang menurut Orde Baru disiksa, yang terakhir Tugu Monumen Pancasila Sakti. Seketika melihat secara langsung ketiga tempat tadi membuat apa yang saya baca, lihat, ketahui, renungkan selama ini berputar dikepala saya. Foto antrian masyarakat yang mengantri makanan, makam-makam di ujung Pulau Buru, teriakan menggebu Bung Karno di GBK, jeritan istri Jendral Ahmad Yani di film Pengkhianatan G30S/PKI  dan kejadian kejadian lain secara simultan bermain dan keluar dari lipatan-lipatan memori. Peristiwa-peristiwa yang saling berkaitan berputar perlahan-lahan, lambat laun kepingan terakhir puzzle dari semua rangkaian peristiwa tadi muncul dan membuat puzzle-nya lengkap dan utuh.

    Detik itu, tepat tengah hari 1 Februari 2022, bagi saya pribadi siapa bagaimana mengapa Gerakan 30 September sudah terjawab.


    Kepingan puzzle terakhir yang saya dapat, membuat kabut kelam sejarah Gerakan 30 September menjadi terang benderang dikepala saya. Saya sudah memiliki jawaban saya sendiri. Tentunya apa yang saya anggap kebenaran yang saya yakini tentulah tidak selalu sesuai dengan kebenaran yang orang lain yakini. Karena sejarah juga sangat erat hubungannya dengan sudut pandang. Namun kebenaran itu cukuplah untuk membuat saya menutup buku keingintahuan saya. Membuat saya berhenti dalam perjalanan pencarian ini, melengkapi bekal untuk menjadi kebijaksanaan saya untuk melihat dan menerka hari esok serta membuat saya bisa memulai untuk membuka buku baru untuk keingintahuan dan kebijaksanaan yang lain.


“Kami mengetahui semua sejarahnya. Akan tetapi nona, jangan terburu-buru. Kalian harus meneruskan perjalanan kalian, dengan kapal ini, meniti setiap langkah. Aku berpendapat bahawa kami dan para penduduk Ohara terlalu sedikit terburu-buru. Bahkan kalau aku menceritakan  seluruh kejadian padamu sekarang , kamu pun tak bisa melakukan apa-apa. Kamu harus melihat segala isi dunia ini dengan baik. Dan siapa tahu, kau bisa mendapatkan kesimpulan yang berbeda dari kesimpulan yang kami dapatkan” Silver Rayleigh kepada Nico Robin mengenai sejarah Void Century

Minggu, 12 Desember 2021

Quote Ceria Aulia #5

 "Hidup seperti Imam Syafi'i. Kalau ada yang suka ya disyukuri, untuk silaturahmi. Kalau ada yang nggak suka ya disyukuri, tidak akan ganggu hidup kita. Kalau ngeliat dunia itu enteng sekali" (Dikutip dengan sedikit penyesuaian )


KH Ahmad Bahaudin Nursalim, Tafsir Jalalain Surah Shad 1-8, 19 Des 2019




Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #9 : Yoni Pratama

 Gedangan, 12 Desember 2021


Saya bersyukur sore ini kami tidak sengaja berkunjung ke rumah salah satu teman saya sejak jaman SMP.  Namanya adalah Yoni Pratama. Kami sudah saling kenal karena kami sama-sama bersekolah di SMPN 4 Surakarta, kemudian sama-sama melanjutkan di SMAN 1 Surakarta dan bersambung berkawan hingga saat ini. Fisik Yoni sangat kontras dengan sifatnya. Tubuh Yoni tinggi besar dengan kulit sawo matang sehingga timbul kesan angker bagi yang belum mengenalnya. Namun lucunya selalu tersungging senyum di wajahnya. Tutur katanya selalu halus dan bernada lembut khas Priyayi Solo. Sifatnya pun selalu ramah dan bersahabat.

Yoni seingat saya selalu seperti itu sejak pertama saya mengenalnya di masa SMP lebih dari 15 tahun yang lalu. Selalu ramah dan selalu tersenyum pada siapapun. Setahu saya ia tak pernah punya musuh dan sepertinya semua orang juga menyukainya. Entah memang ia ingin tak ingin cari musuh atau pembawaannya memang dari lahir begitu, baik pada semua orang. Saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Yoni ketika ia sedang ada masalah atau dalam tekanan pekerjaan, meskipun saya percaya bahwa besar kemungkinan ia akan tetap selow dan tersenyum menghadapinya.



 Yoni sangat sesuai dengan perilaku yang menurut orang tua saya "Wong mono bisa'a apik marang liyan, bisa'a amrih piye carane ora nglarani ati dulur kancane, insyaAllah Gusti bakal bales. Neg ora diwales bandha, ya diwales sehat. Neg ora diwales dunya, ya mengko neg akherot. Neg ora tiba awakmu, ya nggo anak turunmu." (Manusia kalau bisa berbuat baik dengan sesama, bagaimana caranya agar tidak menyakiti hati kawan dan saudaranya, insyaAllah Tuhan akan membalas. Kalau tidak berupa harta, ya dibalas berupa kesehatan. Kalau tidak dibalas di dunia, ya nanti di akhirat. Kalau tidak dibalas padamu, ya nanti untuk anak keturunanmu). 

Ya, segala budi baik, ketulusan, kelembutan dan keramahan manusia tetap akan berbalas.  Di kala saat ini manusia berbuat baik sering karena dilandasi keinginan hutang budi, percaya atau tidak Tuhan dan Semesta Raya sudah memiliki catatannya sendiri. Kita harus seperti Yoni dimanapun dan kapanpun kita berada. Kalau meminjam istilah kawan saya yang beragama Hindu "Yoni sedang dan selalu menanam karma baiknya dan suatu saat ia akan memanen buah karma baik itu kembali".

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #8 : Anak Milik Tuhan

 Meja Makan di Ampel, 11 Desember 2021.


Saya bersyukur mengikuti berita yang sedang heboh di media massa dan lini masa mengenai 21 santriwati yang "diperkosa" oleh guru ngajinya. Sebagai bapak dengan dua anak dengan anak perempuan kami yang sulung baru berumur 5 tahun, tentunya berita ini membuat hati saya teriris sekali karena berita ini layaknya berita saham, muncul setiap hari dan beritanya diminati. Banyak yang mengajukan berbagai pertaanyaan lucu seperti "kenapa berita-berita perkosaan seperti ini baru muncul sekarang?kenapa harus guru ngaji?apakah ini dalam rangka skema besar penghancuran institusi agama?" dan banyak lagi.

Kalis Mardiasih, seorang aktivis perempuan menyebutkan dalam akun sosial medianya bahwa sebetulnya kekerasan seksual sudah ada sejak dulu dan jumlahnya sudah banyak namun dahulu kekerasan seksual dinormalisasi oleh media. Masyarakatpun dahulu masih menganggap kekerasan seksual adalah sebuah aib yang harus ditutup-tutupi dan korban belum bisa mengemukakan apa yang terjadi padanya. Belum lagi pendidikan seksual masih sangat tabu dan wanita masih dihambat gerakannya untuk melawan kekerasan yang terjadi padanya. Masalah guru ngaji? bukankah seorang pemuka agama tidak hanya Islam saja namun juga Kristen, Katolik, Budha dan lain lain sudah sering diberitakan adalah pelaku utama dibanyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Bukan tanpa alasan bahwa serial kartun "South Park" sering menjadikan pastor sebagai bahan guyonan utamanya dibanyak episode. 

Lagi, saya bukan seorang ahli dibidang gender atau ilmu sosial namun saya hanyalah orang tua yang ingin menjaga anaknya sebaik mungkin agar terhindar dari bahaya kekerasan seksual. Saya dan istri bersyukur karena tumbuh besar dikeluarga dimana ayah saya selalu lembut dan tidak pernah main tangan pada ibu saya dan anak-anaknya. Kamipun bersyukur dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa mengalami pelecehan atau hal lain dalam hidup kami. Kedua hal ini adalah modal awal kami untuk mendidik dan usaha kami dalam menjauhkan Fleur dan Finix dari hal-hal yang tidak kami inginkan. Namun itu belum cukup.

Diskusi dengan kawan-kawan saya membuat saya tersadar bahwa membesarkan anak dizaman sekarang jauh lebih sulit daripada dahulu saat ayah saya membesarkan saya. Apa yang kami diskusikan membuat saya dan istri merasa harus belajar lebih. Kami harus mulai membaca buku terkait pola mendidik anak, bermusyawarah berdua mengenai bagaimana kami mendidik mereka, berdiskusi lebih dengan rekan-rekan kami seumuran, memilah - memilih-menemani apa yang Fleur dan Finix lihat di televisi dan youtube, mulai berdiskusi dengan mereka sesuai umur tumbuh kembangnya, dan yang paling sulit mendampingi dan mengawasi orang-orang disekitar kami.

Apakah hal itu itu cukup untuk menghilangkan semua potensi bahaya yang ada? Sekali lagi itu tidak cukup. Kadang saya sendiri takut sekali jika terjadi sesuatu hal pada kedua buah hati kami (Naudzubillahi min dzalik!). Takut apakah kami berdua sudah membesarkan mereka dengan semaksimalnya sehingga mereka nantinya dapat tumbuh besar menjadi seorang yang bertanggung jawab dan baik dimata Tuhan dan masyarakat. Namun apa daya, sayapun manusia biasa.



Hingga suatu malam saat saya menatap Fleur dan Finix yang sedang pulas tidur, saya mendapatkan ketenangan. Saya sadar bahwa mereka berdua adalah anak milik Tuhan yang dititipkan pada saya dan Istri. Tugas yang Tuhan berikan pada saya adalah menjaga, mendidik dan mencintai mereka semampu dan semaksimal yang kami bisa. Sisanya kami serahkan pada Tuhan Sang Penguasa Semesta Alam. Semakin kami merasa bahwa Fleur dan Finix adalah milik kami pribadi, semakin tidak maksimal kami dalam mendidik mereka, semakin tumbuh kekhawatiran dan ketakutan dalam diri kami. Tuhan akan memberikan yang terbaik selama kami berusaha dan berdoa sebaik mungkin. 

Saya yakin itu.

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim

Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #17 : Syukur dan Rasa Cukup

Sudah satu minggu ini saya sedikit menambah doa saya selepas selesai sembahyang. Dari "Tuhan jadikan saya Farah Fleur Finix menjadi ora...