Tampilkan postingan dengan label Sebuah Resensi Picisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Resensi Picisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2023

Sebuah Resensi Picisan : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Identitas Buku 

Judul Buku : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Penulis Buku : Salim Haji Said

Penerbit Buku : Penerbit Mizan

Cetakan Tahun : 2016

Tebal Buku : 379 halaman


Ringkasan :

Salim Haji Said sebagai salah satu peneliti ilmu politik terkemuka Indonesia mempersembahkan satu buku cerdas yang dapat memberikan gambaran pada kita bagaimana perputaran arus kekuasaan di sekitar "The Smiling General" Soeharto. Sebagai orang Indonesia yang lahir di era 90an, kesan saya mengenai Presiden Soeharto hanyalah 3 hal. Orang yang membuat Indonesia tenang, tenteram, sekaligus menakutkan. Membaca buku ini membuat saya lebih dalam memahami mengapa beliau bisa membuat Indonesia menjadi tenang, tenteram sekaligus menakutkan. Beliau begitu jenius mengelola orang-orang kuat disekitarnya, memanipulasi psikologis masyarakat serta memainkan catur politik Indonesia, selama 30 tahun. 
Khususnya buku ini lebih terfokus pada bagaimana kisah Presiden Soeharto dalam menjalin hubungan dengan dengan tokoh-tokoh militer disekitarnya sejak era awal Orde Baru hingga turunnya beliau di 21 Mei 1998 serta kisah-kisah. Dibagi menjadi 14 bab, dimana 9 menjelaskan relasi pak Harto dengan setiap tokoh-tokoh militer yang berada dilingkaran dalam beliau serta 5 bab tambahan mengenai masalah Dwifungsi ABRI hingga proses pencalonan Presiden Soeharto menjadi Jenderal Bintang 5. Dalam 9 bab inilah kita bisa mengagumi kedalaman pengetahuan serta keluasan koneksi Salim Haji Said sehingga mampu mendapatkan banyak inside information yang hanya bisa didapat dari ring 1 pak Harto. Keberanian Salim Haji Said dalam mewawancara tokoh-tokoh yang terkenal angker dan bengis namun tetap dapat mendapatkan informasi yang terpercaya adalah hal yang patut diacungi jempol. Tak kurang hubungan pak Harto dengan 10 Jenderal penting Indonesia yang membentang dalam kurun waktu 30 tahun dibahas.
Mulai dari mengenai para Jenderal yang mengamankan langkah pak Harto, intrik-intrik politik antar Jenderal dalam "merebut" hati pak Harto hinggal loyalitas membabi-buta terhadap pak Harto yang berakhir dengan ironis. Kekuatan narasi dan analisa politik dalam buku ini yang (bagi saya pribadi) hasil kemampuan men-sari-kan kejadian serta informasi hasil koneksi Salim Haji Said terbukti dapat membuat 379 halaman terasa seperti sesingkat cerpen.
Sebagai penutup, buku ini dapat dijadikan preambule bagi seseorang yang ingin memahami bagaimana Presiden Soeharto melanggengkan kekuasaannya selama 30 tahun sebelum membaca buku lain yang lebih detail membahas hal tsb.

Kelebihan :

Kedalaman adalah hal pertama dan utama yang perlu saya puji dari buku ini. Opini yang terlontar dari masing-masing tokoh yang masih terasa sekali emosinya, hasil wawancara, catatan-catatan terhadap peristiwa terkait setiap tokoh membuat apa yang disampaikan Salim Haji Said dalam buku ini sangat terasa detail dan dalam


Kekurangan :

Bab pertama buku ini mengenai 3 Jenderal "King Maker" yakni Kemal Idris, HR Dharsono, Sarwo Edhi hingga Bab kedua mengenai Jenderal Jusuf terasa sedikit meloncat dari timeline yang penulis tahu. Era relasi pak Harto dengan Jenderal Kemal Idris - HR Dharsono - Sarwo Edhi (sependek pengetahuan penulis) adalah tahun 1966-1968 sedangkan relasi dengan Jenderal Jusuf di kisaran 1974 an sehingga penulis merasa perlu ada bab yang disisipkan untuk mengisi gap antara tahun 1968 hingga 1974.

Kutipan Favorit : 
"Bapak (Presiden Soeharto) itu sebenarnya Raja, tapi sekarang istilah Raja tidak dipakai lagi. Yang dipakai Presiden saja"

Kamis, 04 November 2021

Sebuah Resensi Picisan : Aksi Massa

 Identitas Buku 

Judul Buku : Aksi Massa

Penulis Buku : Tan Malaka

Penerbit Buku : Penerbit Narasi

Cetakan Tahun : 2013

Tebal Buku : 148 halaman


Ringkasan :

Ada dua tokoh nasional yang melampaui zamannya dalam pandangan saya, yang pertama adalah Presiden ke-4 Indonesia, KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, yang kedua adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau lebih dikenal dengan Tan Malaka. Gus Dur adalah seorang visioner dibidang reliji atau kerukunan antar umat beragama, sedangkan Tan Malaka adalah visioner dibidang kenegaraan. Beliau tidak lagi bisa disebut pendiri bangsa tapi mungkin bisa disebut inspirator para pendiri bangsa. Bagi saya kelas Tan Malaka disejajarkan dengan HOS Tjokroaminoto. Pemikirannya  menjadi rujukan bagi para pendiri bangsa, bahkan Ir. Soekarno membawa makalah Tan Malaka yang berjudul " Naar de Republiek Indonesia" saat berpidato di Pengadilan Belanda. 

Buku Aksi Massa adalah salah satu pengejawantahan pemikiran beliau dan bukti beliau adalah inspirator para pendiri bangsa. Visinya bagaimana menggerakkan bangsa Indonesia untuk menggoyang pemerintahan Kerajaan Belanda sangat jelas di buku ini, yang bahkan menurut saya masih relevan sampai saat ini jika dikaitkan dengan isu kesenjangan sosial di Indonesia. Di buku ini beliau juga dengan gamblang menarik benang merah isu sosio-kultural dan historikal mengenai bagaimana rakyat Indonesia hingga sedemikian dapat terkungkung dalam agenda penjajahan Belanda dan perbedaan mencolok apa yang terjadi antara pergolakan di Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di Asia seperti India dan Filipina.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah bagaimana beliau sudah melek data dan mampu menggunakan perbandingan data statistika untuk mengungkapkan bagaimana kesenjangan ekonomi dapat bermuara pada suatu fenomena sosial disaat banyak tokoh-tokoh nasional lain masih bermain retorika dan kata-kata tanpa suatu dasar yang valid. Kemampuan memahami berbagai hal interdisipliner dan visi kenegaraan yang jelas inilah yang membuat Tan Malaka begitu berbahaya bagi pemerintahan Belanda di Indonesia yang sekaligus membuat beliau nampak "kering" bagi banyak masyarakat Indonesia kala itu. Meskipun karya-karya beliau banyak membuat terobosan dan menginspirasi banyak tokoh, beliau sendiri justru kalah pamor dibandingankan misalnya Bung Karno atau Sjahrir. Mungkin hal ini disebabkan beliau lebih sering berada di pengasingan atau bahkan berdiam diri menjauhi kejaran pemerintah Belanda.

Sebagai penutup, buku Aksi Massa ini masih relevan sebagai bacaan di masa sekarang tak hanya sebagai rujukan sejarah dan memahami bagaimana embrio pemikiran Indonesia merdeka tumbuh, juga karena banyak hal-hal yang masih bisa diimplementasikan dalam diri para tokoh politik dan pemimpin Indonesia yang saat ini dikacamata masyarakat mengalami dekadensi moral dan sebagai pijakan bagaimana seorang pemimpin ideal bertindak dan berpikir bagi masyarakat

Kelebihan :

Sebenarnya sebelum saya membuka halaman pertama, saya sudah merasa masih skeptis tentang apa yang akan saya peroleh setelah membaca buku ini. Aksi Massa adalah karya kedua Tan Malaka yang saya baca, sebelumnya saya Madilog yang sampai saat ini belum selesai saya rampungkan. Jujur memahami Madilog amatlah sukar. Diksi, susunan kata sampai istilah yang digunakan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia resmi yang digunakan saat ini. Kemungkinan penerbitnya ingin menjaga Madilog seotentik mungkin agar tidak menimbulkan kerancuan makna. Sedangkan setelah membaca Aksi Massa saya lebih dapat memahaminya mungkin karena terdapat alih bahasa yang dilakukan penerbit untuk mempermudah pembaca memahami apa maksud tulisan Aksi Massa.


Kekurangan :

Terkait dengan kelebihannya, sebetulnya menurut hemat saya alih bahasa juga bisa menjadi pedang bermata dua. Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang digunakan pada karya Tan Malaka aslinya adalah bahasa Melayu era 1910-1930an yang bahkan seorang Soe Hok Gie saja mengalami kerancuan dalam mengartikan banyak istilahnya. Kekurangan yang dapat saya sampaikan adalah jika semua tulisan pada buku ini mengalami alih bahasa sedemikian rupa maka muncul kekhawatiran bahwa makna dan konteksnya bisa saja tidak tepat sasaran atau meleset dari apa yang dimaksud sesungguhnya oleh Tan Malaka. 

Sebagai saran konstruktif sebagai pembaca dan untuk para pembaca lain, mungkin lebih lanjut pembaca dapat mencari buku yang sama dari penerbit lain yang tanpa menggunakan alih bahasa sebagai pembanding atas buku Aksi Massa yang dialihbahasakan oleh penerbit Narasi sehingga dapat memaknai sendiri atas apa yang dituliskan Tan Malaka

Minggu, 02 Mei 2021

Sebuah Resensi Picisan : Pelajaran Dari Tiongkok

Identitas Buku 

Judul Buku : Pelajaran Dari Tiongkok : Catatan Dahlan Iskan

Penulis Buku : Dahlan Iskan

Penerbit Buku : JP Books

Cetakan : Tahun 2008

Tebal : 268 Halaman

Ringkasan 
Dahlan Iskan mungkin satu diantara tokoh Indonesia yang nampak sekali menunjukkan kekaguman pada Republik Rakyat China, khususnya pada lompatan-lompatan yang berhasil dilakukannya tak hanya sebagai negara namun juga sebagai bangsa. Tak aneh sebetulnya mengapa beliau begitu seperti itu, saya menangkap beliau begitu ingin kita, sebagai bangsa Indonesia meniru apa yang dilakukan Cina sebagai negara dan bangsa.  Sama-sama berpopulasi besar, sama-sama bangsa yang tua namun negara yang masih berumur muda, sama-sama mengalami kepahitan diawal-awal kemerdekaan ds. Dari kesamaan-kesamaan tsb,mungkin beliau melihat banyak kesamaan antara kita dan bangsa Cina sehingga apa yang dilakukan mereka untuk berkemajuan, bisa kita tiru secara persis sehingga kita pun bisa tampil di pentas dunia secara gagah. 
Sejak tahun 2004 beliau begitu sering menulis secara lepas di koran JawaPos milik beliau yang kemudian dikumpulkan menjadi satu kesatuan berupa buku ini. Sejatinya buku ini berisi kesan beliau, komentar beliau serta pendapat beliau (beliau mengesankan sebagai seorang yang tua, capai melihat kondisi saat ini di Indonesia, jengah melihat pengampu kepentingan yang tidak peduli pada bangsa ini, dan berharap menulis ini bagi dan untuk anakmuda agar bisa menginspirasi mereka) mengenai kemajuan baik dibidang infrastruktur, ekonomi, bisnis bahkan sosial kemasyarakatan di Cina. Kala itu beliau sering sekali melawat ke negeri Tirai Bambu disamping urusan beliau sebagai pemimpin sebuah kerajaan media, juga dikarenakan beliau ditunjuk sebagai pimpinan sebuah BUMD milik provinsi Jawa Timur yang sedang melakukan ekpansi bisnis sehingga memerlukan kunjungan kesana. 
Mengguritanya sistem jalan tol, perkembangan pesat sistem kereta api, meledaknya pertumbuhan ekonomi, menggeliat pusat-pusat industri di desa-desa, keterbukaan terhadap investasi, tingginya semangat untuk maju di kalangan muda adalah beberapa topik utama yang dikemukakan di buku ini yang seyogyanya bisa kita tiru sebagai bangsa Indonesia.

Kelebihan : 

Tulisan yang lugas dan disampaikan secara non-formal membuat pembaca tidak terkesan digurui, namun malah pembaca merasa seakan didongengkan mengenai sebuah negeri yang tengah-tengah berahi untuk menggapai kemakmuran. Deskripsi yang tidak njlimet dan khas wartawan (yang juga businessman) membuat lembar per lembar tak bosan dibaca, apalagi bagi bila pembaca adalah anak muda yang menginginkan sebuah perubahan masif di negeri ini.

Kekurangan : 
Akan lebih manis dan menarik jika ditampilkan juga lebih banyak dokumentasi-dokumentasi untuk setiap tulisan sehingga membantu pembaca untuk lebih memiliki bayangan tentang apa yang diceriterakan

Kutipan favorit :
 "Padahal disaat kita akan kalah dari Tiongkok di sektor industri,kita aknlan bisa mengandalkan turisme. Salah satu masa depan kita adalah turisme. Tapi, siapa yang peduli?"

Senin, 12 April 2021

Sebuah Resensi Picisan : Semua Tampak Mustahil Sampai Berhasil Diselesaikan

Identitas Buku 

Judul Buku : Semua Tampak Mustahil Sampai Berhasil Diselesaikan

Penulis Buku : Kathryn dan Ross Petras

Penerbit Buku : Elex Media Komputindo

Cetakan : Tahun 2016

Tebal : 277 Halaman

Ringkasan 

Ucapan seorang bijak adalah penyembuh luka, adalah bahan bakar hidup, adalah alarm kehidupan. Bagi saya pribadi, buku ini mungkin salah satu yang membosankan namun disisi lain yang sedang saya butuhkan. Fase hidup saya saat ini berada di posisi yang begitu memerlukan tambahan energi dan inspirasi dari orang-orang yang sudah melewati ombak dan badai, karang dan kapal karam, buaian duyung dan terjangan kraken, yang sudah mencapai Pulau Harapan dan impian yang menjadi keabadian. Kata bijak dari orang-orang itu lah yang membuat pejuang kehidupan tetap teguh mengayuh.  Buku ini mencakup kata-kata bijak dari filsuf, olahragawan, ilmuwan, penulis, presiden, perdana menteri , agamawan, dan orang besar lain yang satu atau lebih mungkin berkorelasi dengan apa yang sedang kita hadapi sekarang atau nanti.

Kelebihan : 

Buku yang dengan pemilihan font dan tata tulisan yang menarik, membuat kita sebagai pembaca tidak akan merasa bosan mebaca lebih dari 250 halaman dalam sekali duduk. Dilengkapi nama tokoh serta profesinya, membuat kita akan merasa lebih tertarik untuk bacaan lebih lanjut terhadap tokoh tsb. Diatas kutipan disertakan pula tema besar dari kutipan tsb sehingga lebih terklasifikasi.

Kekurangan : 

Banyak kutipan-kutipan dari tokoh yang terkenal hanya di Amerika Serikat saja seperti pemain bisbol atau american footbal sehingga bagi beberapa pembaca yang tidak mengenalnya mungkin akan merasa tidak terkoneksi dengan tokoh tsb

Kutipan favorit :
 "I am a slow walker, but i never walk back" - Abraham Lincoln

Jumat, 26 Maret 2021

Sebuah Resensi Picisan : Korupsi

Identitas Buku 

Judul Buku : Korupsi

Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit Buku : Hasta Mitra

Cetakan : Tahun 2002

Tebal : 154 Halaman

Ringkasan 

"Jangan pernah berharap keadilan di dunia ini" kira-kira begitu salah satu kutipan sendu dari Buya Yahya tentang timpangnya kehidupan ini. Keadilan adalah hal mahal di dunia nyata, kontras dengan apa yang disampaikan di novel "Korupsi" karya Penulis Besar Indonesia, Pram. Biasanya Pram sering menampilkan realitas tentang betapa timpang dan tidakadilnya kehidupan, seperti di seri keempat Tetralogi Buru "Rumah Kaca". Namun buku ini menampilkan sebaliknya, diakhir cerita si tokoh utama mendapatkan balasan setimpal atas apa yang dia lakukan.
Berlatar belakang Indonesia era demokrasi parlemen dimana korupsi,suap dan politik dagang sapi merajalela, buku ini menceritakan tokoh utama yang merupakan seorang kepala sebuah kantor dinas jawatan di Jakarta. Seorang kepala keluarga yang "family man", jujur, tegas, disiplin dan anti suap namun dikarenakan prinsip anti suapnya, hidupnya sangat pas-pasan dibandingkan rekan-rekan sejawatnya yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang korup. Kebutuhan akan pendidikan, tekanan ekonomi serta "pekarangan tetangga yang lebih hijau" mengikis perlahan-lahan idealisme tokoh utama. Gabungan dari jabatan tinggi, peluang, keinginan dan bobroknya sistem membuatnya mencicip sedikit demi sedikit dosa korupsi. Dosa korupsi itupun perlahan mulai merubah sifat dan kehidupan tokoh utama. Dari semula pria setengah baya yang setia pada istri, ayah yang dekat dengan anak-anaknya, atasan yang menjadi tauladan, serta pribadi yang ramah menjadi pria setengah baya yang hobi memelihara gundik, menelantarkan anak-istrinya, mempermalukan posisinya, serta membuang jauh kesusilaan.
Akhir cerita, si tokoh utama mendekam dalam penjara dengan penyesalan terlebih saat dihakimi dihadapan anak-istri yang telah ditinggalkannya serta anak buah yang dulu begitu mengaguminya.

Kelebihan : 

Pram adalah master dalam mendeskripsikan latar belakang dan waktu dalam novelnya. Setiap kata, kalimat, frasa dalam buku ini berhasil membuat saya bisa mengimajinasikan tempat dimana tokoh-tokoh berdialog, tempat kejadian, suasana serta ambience-nya yang bercorak Indonesia tahun 1950an

Kekurangan : 

Plotnya terkesan sangat sederhana, datar, dan tidak njlimet seperti karya Pram yang laim

Kutipan favorit : 
"Keperwiraan!Keperwiraan!Keperwiraan menghadapi segala-galanya. Cukup keperwiraan yang bisa menolong Indonesia,pak"

Selasa, 23 Maret 2021

Sebuah Resensi Picisan : Komunitas Arab di Surabaya 1900 - 1942

Identitas Buku 

Judul Buku : Komunitas Arab di Kota Surabaya 1900-1942

Penulis Buku : Drs. Artono, M.Hum

Penerbit Buku : Publisher Kendi

Cetakan : Tahun 2021

Tebal : 139 Halaman


Ringkasan 

"Suku Arab di Indonesia adalah minoritas yang mayoritas", mungkin itu adalah salah satu kalimat yang bisa saya simpulkan setelah membaca buku ini. Sebagai salah satu komunitas yang cukup dominan dalam sejarah bangsa Indonesia, saya memang cukup jarang melihat buku yang mengulas mengenai komunitas Arab di Indonesia baik di rak-rak toko buku maupun di media sosial penerbit-penerbit. Saya secara pribadi memiliki ketertarikan mengenai hal ini, terlebih saat ini saya tinggal di perkampungan Arab di Surabaya persis sesuai dengan lokasi yang dibahas dibuku inj. Dengan adanya buku ini membuat saya memiliki sedikit pemahaman secara historis tentang siapa dan bagaimana komunitas Arab lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia. Secara khusus buku ini juga merujuk pada salah satu buku karangan Huub de Jonge yang membuat saya semakin ingin mendalami mengenai komunitas Arab khususnya yang mengaku memiliki genealogi dengan Nabi Muhammad SAW.
Dikarenakan buku ini adalah pengembangan dari suatu tesis , tentunya buku ini menggunakan susunan kalimat dan kosa kata resmi khas penelitian ilmiah. Keakurasian buku ini juga terjamin karena disandarkan pada laporan-laporan, surat kabar dan penelitian pada jaman kolonial bukan hanya pada asumsi penulis. Dalam banyak bagian, saya juga tidak menemukan sudut pandang yang bias penulis. Semua disampaikan seobjektif mungkin.
Saya tahu mungkin banyak yang bertanya apa manfaat membaca buku ini? Dari saya pribadi, memahami komunitas Arab ini sangat penting, agar mampu menempatkan komunitas Arab sesuai pada porsinya di masyarakat. Terlebih saat ini masyarakat yang beragama Islam Indonesia sedang memiliki semangat dalam beragama yang sangat tinggi dan tidak dapat dipungkiri, komunitas Arab memiliki tempat tinggi dalam pandangan masyarakat Islam, sehingga sangat mungkin adanya mis-konsepsi dan timbul reaksi berlebihan jika terjadi sesuatu menyangkut komunitas Arab di Indonesia

Kelebihan : 

Uraiannya sangat padat dan jelas. Tidak ada kata-kata njlimet dan berulang sehingga pembaca tinggal menelan saja apa yang disampaikan penulis. Catatan kaki dibawah terutama sangat membantu untuk mencari rujukan buku selanjutnya.

Kekurangan : 

Saya akan sangat senang jika  gambar dan peta ditempatkan diantara paragraf-paragraf buku ini, terlebih gambar yang berwarna. Penempatan gambar (apalagi yang hitam putih) dibagian belakang buku agak merepotkan membaca dan kurang membantu pembaca untuk mengimajinasikan apa yang dijelaskan penulis.

Kutipan favorit : 
"Indonesia, simbol persatuanku
Indonesia, tanah dimana aku dilahirkan
Kesatuan orang Arab di Indonesia semakin cerah
Kita tetap setia"

Minggu, 10 Januari 2021

Sebuah Resensi Picisan : Ayat-Ayat Cinta

Identitas Buku 

Judul Buku : Ayat-Ayat Cinta

Penulis Buku : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit Buku : Republika

Cetakan : Tahun 2008

Tebal : 410 Halaman



Ringkasan 

Fahri bin Muhammad Siddiq adalah mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia adalah seseorang yang khusuk, visi dan cita-cita yang jelas, didulung dengan kerja keras yang ia lakukan sejak pertama kali ia menginjak tanah Mesir. Suatu ketika ia menolong seseorang gadis Mesir bernama Noura dengan bantuan tetangganya bernama Maria. Maria adalah seorang gadis Kristen Koptik yang diam-diam menyukai Fahri. Sebagai Muslim yang taat, Fahri sangat menjaga bagaimana ia berinteraksi dengan lawan jenis, namun justru itulah yang membuat Maria menyukai Fahri.
Dilain pihak, Fahri yang pernah membantu dan membela seorang Amerika bernama Alicia, membuat seorang gadis Turki bernama Aisha jatuh hati. Aisha kemudian meminta paman Aisha yang juga kenalan Fahri untuk melamar Fahri.
Masalah kemudian muncul saat Noura melaporkan Fahri ke polisi dan menuduh Fahri menghamilinya. Fahri kemudian berjuang bersama Aisha untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Dibantu Maria, keluarga Maria serta berbagai koneksi Fahri, akhirnya Fahri berhasil membuktikan dipengadilan bahwa ia tidak bersalah. Namun diakhir cerita, setelah Maria menikahi Fahri dan menjadi istri kedua Fahri setelah Aisha, Maria meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya.

Kelebihan : 

Novel yang mudah dipahami dengan laur yang mudah dicerna pula. Meskipun memiliki latar belakang agama, namun dijabarkan secara gamblang dan tak membosankan. Penulis juga dibekali ilmu agama yang mumpuni sehingga mampu menjelaskan banyak masalah yang menjadi mungkin menjadi pertanyaan pembaca diluar Islam dengan sangat jelas dan masuk akal. Kelebihan lainnya adalah latar belakang kota Kairo yang dijelaskan dengan sangat detail sehingga menambah "kelezatan" saat menikmati buku ini

Kekurangan : 

Meskipun sangat subjektif, saya merasa buku ini akan lebih apik kalau disajikan dalam font yang lebih besar.

Kutipan favorit : 
"Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk kedalam sukma. Aku ingin masuk kedalamnya. Disana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku berwudhu sekarang juga." - Maria Girgis

Sebuah Resensi Picisan : Malcom X Untuk Pemula

Identitas Buku 

Judul Buku : Malcolm X Untuk Pemula

Penulis Buku : Bernard Aquina Doctor

Penerbit Buku : Resist

Cetakan : Tahun 2006

Tebal : 185 Halaman



Ringkasan 

Malcolm X, terlahir sebagai Malcolm Little adalah satu dari dua tokoh besar kesetaraan warga kulit hitam Amerika. Dia dan Martin Luther King dianggap sebagai motor utama penggerak hak warga kulit hitam didekade 1950-1960 terlebih setelah undang-undang Jim Crow dan paket kebijakan rasialis lain diberlakukan di Amerika Serikat.
Putra seorang pendeta ini lahir dengan kecerdasan diatas anak-anak pada umumnya dan belajar tentang kerasnya dunia dan pedihnya rasisme Amerika Serikat sedari kecil. Ayahnya diduga dibunuh geng rasis kulit putih dengan ditabrakkan ke kereta api saat Malcolm berusia 6 tahun. Hidupnya kemudian berpindah-pindah dari satu geng ke geng lain, dari satu ghetto ke ghetto lain, sambil mempelajari segala yang ia ketahui mengenai dunia hitam.
Saat berusia 21 tahun, ia dipenjara 10 tahun di Penjara Kelas Menengah Kota Charlestown dimana ia berkenalan dengan organisasi Nation of Islam (NOI). Mulailah Malcolm menemukan tujuan baru dalam hidupnya dan memperbaiki dirinya. Tak lama ,kecerdasannya menarik perhatian pemimpin NOI, Elijah Muhammad dan membuatnya moncer dan menjadi inspirator bagi banyak kaum kulit hitam Amerika Serikat.
Skandal-skandal didalam NOI membuat Malcolm memutuskan keluar dari NOI dan membuat organisasinya sendiri Muslim Inc. yang mendapat bantuan dari banyak negara Arab. Kunjungan dan Ritual ibadah hajinya membuat Malcolm memutuskan pindah menjadi muslim suni dan membuat pandangannya menjadi lebih jelas mengenai masalah ras dan kesetaraan di Amerika.
Disaat-saat terakhir hidupnya, Malcolm X menjadi buruan CIA, NOI dan banyak organisasi rasis kulit putih. 21 Februari 1965, Malcolm dijadwalkan menyampaikan pidato disebuah pertemuan. Dihadapan Istri dan anak-anaknya yang ikut hadir, Malcolm X ditembak mati oleh terduga simpatisan NOI

Kelebihan : 

Buku yang cukup "dilahap" dalam satu dudukan. Didukung ilustrasi-ilustrasi bergaya Pop sehingga sangat menarik untuk dibaca. Banyak informasi tambahan yang berkaitan mengenai latar belakang pemikiran atau kehidupan tokoh utama sehingga menambah khasanah kita mengenai sudut pandang pemikiran tokoh utama.

Kekurangan : 

Dikarenakan isi buku ini berwarna hitam pitih sehingga terkesan sangat sederhana. Kemudian bagi saya pribadi, fase hidup tokoh utama saat konfrontasi dengan Martin Luther King juga sangat terbatas dalam pembahasan.

Kutipan favorit : 
"Dipersenjatai dengan pengetahuan masa lalu kita, kita dapat merancang masa depan kita. Hanya dengan mengetahui dimana kita sebelumnya, kita dapat mengetahui dimana kita sekarang, dan mengetahui dimana kita akan pergi" - Malcolm X

Senin, 14 Desember 2020

Sebuah Resensi Picisan : Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991

 Identitas Buku

·       Judul Buku: Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991

·       Penulis Buku: Rupert Butler

·       Penerbit Buku: Elex Media Komputindo

·       Cetakan: Tahun 2017

·       Tebal: 197 Halaman



Ringkasan

Menilik sejarah Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet dibawah Stalin yang penuh dengan kekejaman ternyata tidak serta-merta dan sekonyong-konyong muncul dari sisi paranoid dan maniak Joseph Stalin sendiri. Disajikan dalam buku ini bahwa sisi kekejaman Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet adalah warisan turun temurun sejak jaman kekuasan Tsar yang dilanjutkan Vladimir Lenin dan kemudian menjadi begitu masif dibawah kepemimpinan-kediktatoran Stalin. Ironisnya hal ini kemudian menular ke pemimpin pasca-Stalin seperti Kruschev-Breshnev serta negara-negara penganut Komunis yang lain. Diktator Proletarian yang memimpin masyarakat tanpa kelas yang dicita-citakan Marx dan pencetus awal Sosialisme berubah menjadi tak lebih dari sekedar Diktator penuh ego dan nafsu untuk menjaga kekuasaan itu sendiri.

800 ribu diperkirakan tewas pada era Stalin dibawah eksekusi NKVD dan SMESRH. 1,7 orang tewas di Gulag yang dikirim oleh dinas intelijen sedangkan 5,5 hingga 7 juta orang tewas karena kelaparan disebabkan program Kolkhoz atau Pertanian Kolektif ala Stalin. Semuanya berkat campur tangan Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet. Hingga saat kata “Holodomor” masih tercatat dalam buku sejarah dan membekas dalam benak rakyat Ukraina. Hal ini tidak berkurang kekejamannya saat berkecamuknya perang dingin, upaya bunuh-membunuh antar intelijen dan saksi intelijen begitu menghebohkan dunia hingga menimbulkan booming bertemakan intelijen di era tahun 60an.

Buku ini menurut pendapat saya tidak berusaha mengekspoitasi keburukan suatu Negara atau institusi. Buku ini hanya menampilkan fakta dengan penelitian mendalam yang menurut saya berguna bagi kita, khususnya pembaca yang tidak pernah mengalami secara langsung apa yang terjadi di Dunia saat Uni Soviet masih berdiri, agar tidak meromantisasi hal-hal yang berbau Sosialisme dan Komunisme. Karena sama seperti Kapitalisme sendir (meskipun saat ini sistemnya masih tegak berdiri), Komunisme dan Sosialisme memiliki sisi kelam yang tidak patut untuk dielu-elukan serta diagung-agungkan.

“One death is a tragedy; one million is a statistic” Joseph Dugashvili Stalin

Kelebihan :

Tata bahasanya teratur dilengkapi dengan dokumentasi serta foto yang apik.

Kekurangan ;

Bagi pembaca awam akan membingungkan untuk memahami beberapa istilah mengenai Uni Soviet meskipun di halaman belakang terdapat daftar istilah. Akan lebih baik juga jika dibeberapa bagian dicantumkan peta agar tidak menimbulkan kebingungan terkait letak geografis


Selasa, 01 Desember 2020

Sebuah Resensi Picisan : Origin

Identitas Buku

Judul Buku : Origin

Penulis Buku : Dan Brown

Penerbit Buku : Bentang

Cetakan : Tahun 2017

Tebal : 513 Halaman



Ringkasan

Selaku mantan dosen dan seorang rekan dekat, Robert Langdon diundang secara mendadak oleh Edmond Kirsch, seorang futuris-miliarder teknologi-filantropis dalam suatu gala di Barcelona, Spanyol. Dalam acara yang dipandu oleh Ambra Vidal, seprang model sekaligus calon Ratu Spanyol tsb ternyata Edmond Kirsch hendak memaparkan suatu temuan ilmiah yang menurut pendapat Edmond akan meruntuhkan sistem kepercayaan dan agama di dunia. Namun disaat tengah-tengah presentasinya, secara mengenaskan Edmond Kirsch dibunuh oleh mantan perwira angkatan laut Spanyol bernama Laksamana Avilla atas perintah sosok misterius bernama Sang
Regent
.


Robert Langdon dan Ambra Vidal akhirnya harus mengungkapkan temuan ilmiah Edmond Kirsch ditengah rumitnya kasus pembunuhan Esmond Kirsch yang melibatkan Guardia Real, polisi dan Laksamana Avilla yang kini memburu Langdon dan Vidal. Robert Langdon dan Ambra Vidal dibantu kecerdasan buatan ciptaan Edmond Kirsch bernama Winston berusaha menemukan file data temuan Kirsch yang disimpan di gawai Kirsch yang dikunci sandi 47 karakter huruf. Untuk menemukan kunci sandi ini, Langdon dan Vidal harus menelusuri karya seni arsitek Gaudi, syair-syair Churchill dan seniman lain agar bisa mengungkapkan temuan ilmiah yang konon bisa menjelaskan "darimana manusia berasal dan kemana manusia setelah mati"

Kelebihan :

Deskripsi tata ruang yang dijelaskan apik. Latar belakang cerita mengenai sejarah, agama dan seninya sungguh dapat menambah khasanah kebudayaan seseorang.

Kekurangan :

Bagi pembaca lawas Dan Brown akan sanggup menebak arah plotnya. Plot, latar belakang cerita, klimaks, twist-nya hampir semua hanya merupakan metode salin-kutip dari 4 karya sebelumnya yang ditokoh utamai Robert Langdon yaitu The Da Vinci Code, Angel and Demon, The Lost Symbol dan Inferno. Yang membuat berbeda hanyalah inti kasus yang diungkap serta karya seniman-seniman yang mewarnai cerita buku ini.

Kutipan favorit :
"Kesuksesan adalah kemampuan untuk menjalani satu kegagalan ke kegagalan yang lain tanpa kehilangan perasaan antusias" - Winston Churchill

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #17 : Syukur dan Rasa Cukup

Sudah satu minggu ini saya sedikit menambah doa saya selepas selesai sembahyang. Dari "Tuhan jadikan saya Farah Fleur Finix menjadi ora...