Kamis, 03 Agustus 2023
Sebuah Resensi Picisan : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto
Kamis, 04 November 2021
Sebuah Resensi Picisan : Aksi Massa
Identitas Buku
Judul Buku : Aksi Massa
Penulis Buku : Tan Malaka
Penerbit Buku : Penerbit Narasi
Cetakan Tahun : 2013
Tebal Buku : 148 halaman
Ringkasan :
Ada dua tokoh nasional yang melampaui zamannya dalam pandangan saya, yang pertama adalah Presiden ke-4 Indonesia, KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, yang kedua adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau lebih dikenal dengan Tan Malaka. Gus Dur adalah seorang visioner dibidang reliji atau kerukunan antar umat beragama, sedangkan Tan Malaka adalah visioner dibidang kenegaraan. Beliau tidak lagi bisa disebut pendiri bangsa tapi mungkin bisa disebut inspirator para pendiri bangsa. Bagi saya kelas Tan Malaka disejajarkan dengan HOS Tjokroaminoto. Pemikirannya menjadi rujukan bagi para pendiri bangsa, bahkan Ir. Soekarno membawa makalah Tan Malaka yang berjudul " Naar de Republiek Indonesia" saat berpidato di Pengadilan Belanda.
Buku Aksi Massa adalah salah satu pengejawantahan pemikiran beliau dan bukti beliau adalah inspirator para pendiri bangsa. Visinya bagaimana menggerakkan bangsa Indonesia untuk menggoyang pemerintahan Kerajaan Belanda sangat jelas di buku ini, yang bahkan menurut saya masih relevan sampai saat ini jika dikaitkan dengan isu kesenjangan sosial di Indonesia. Di buku ini beliau juga dengan gamblang menarik benang merah isu sosio-kultural dan historikal mengenai bagaimana rakyat Indonesia hingga sedemikian dapat terkungkung dalam agenda penjajahan Belanda dan perbedaan mencolok apa yang terjadi antara pergolakan di Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di Asia seperti India dan Filipina.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah bagaimana beliau sudah melek data dan mampu menggunakan perbandingan data statistika untuk mengungkapkan bagaimana kesenjangan ekonomi dapat bermuara pada suatu fenomena sosial disaat banyak tokoh-tokoh nasional lain masih bermain retorika dan kata-kata tanpa suatu dasar yang valid. Kemampuan memahami berbagai hal interdisipliner dan visi kenegaraan yang jelas inilah yang membuat Tan Malaka begitu berbahaya bagi pemerintahan Belanda di Indonesia yang sekaligus membuat beliau nampak "kering" bagi banyak masyarakat Indonesia kala itu. Meskipun karya-karya beliau banyak membuat terobosan dan menginspirasi banyak tokoh, beliau sendiri justru kalah pamor dibandingankan misalnya Bung Karno atau Sjahrir. Mungkin hal ini disebabkan beliau lebih sering berada di pengasingan atau bahkan berdiam diri menjauhi kejaran pemerintah Belanda.
Sebagai penutup, buku Aksi Massa ini masih relevan sebagai bacaan di masa sekarang tak hanya sebagai rujukan sejarah dan memahami bagaimana embrio pemikiran Indonesia merdeka tumbuh, juga karena banyak hal-hal yang masih bisa diimplementasikan dalam diri para tokoh politik dan pemimpin Indonesia yang saat ini dikacamata masyarakat mengalami dekadensi moral dan sebagai pijakan bagaimana seorang pemimpin ideal bertindak dan berpikir bagi masyarakat
Kelebihan :
Sebenarnya sebelum saya membuka halaman pertama, saya sudah merasa masih skeptis tentang apa yang akan saya peroleh setelah membaca buku ini. Aksi Massa adalah karya kedua Tan Malaka yang saya baca, sebelumnya saya Madilog yang sampai saat ini belum selesai saya rampungkan. Jujur memahami Madilog amatlah sukar. Diksi, susunan kata sampai istilah yang digunakan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia resmi yang digunakan saat ini. Kemungkinan penerbitnya ingin menjaga Madilog seotentik mungkin agar tidak menimbulkan kerancuan makna. Sedangkan setelah membaca Aksi Massa saya lebih dapat memahaminya mungkin karena terdapat alih bahasa yang dilakukan penerbit untuk mempermudah pembaca memahami apa maksud tulisan Aksi Massa.
Kekurangan :
Terkait dengan kelebihannya, sebetulnya menurut hemat saya alih bahasa juga bisa menjadi pedang bermata dua. Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang digunakan pada karya Tan Malaka aslinya adalah bahasa Melayu era 1910-1930an yang bahkan seorang Soe Hok Gie saja mengalami kerancuan dalam mengartikan banyak istilahnya. Kekurangan yang dapat saya sampaikan adalah jika semua tulisan pada buku ini mengalami alih bahasa sedemikian rupa maka muncul kekhawatiran bahwa makna dan konteksnya bisa saja tidak tepat sasaran atau meleset dari apa yang dimaksud sesungguhnya oleh Tan Malaka.
Sebagai saran konstruktif sebagai pembaca dan untuk para pembaca lain, mungkin lebih lanjut pembaca dapat mencari buku yang sama dari penerbit lain yang tanpa menggunakan alih bahasa sebagai pembanding atas buku Aksi Massa yang dialihbahasakan oleh penerbit Narasi sehingga dapat memaknai sendiri atas apa yang dituliskan Tan Malaka
Minggu, 02 Mei 2021
Sebuah Resensi Picisan : Pelajaran Dari Tiongkok
Identitas Buku
Judul Buku : Pelajaran Dari Tiongkok : Catatan Dahlan Iskan
Penulis Buku : Dahlan Iskan
Penerbit Buku : JP Books
Cetakan : Tahun 2008
Tebal : 268 Halaman
Tulisan yang lugas dan disampaikan secara non-formal membuat pembaca tidak terkesan digurui, namun malah pembaca merasa seakan didongengkan mengenai sebuah negeri yang tengah-tengah berahi untuk menggapai kemakmuran. Deskripsi yang tidak njlimet dan khas wartawan (yang juga businessman) membuat lembar per lembar tak bosan dibaca, apalagi bagi bila pembaca adalah anak muda yang menginginkan sebuah perubahan masif di negeri ini.
Kekurangan :
Akan lebih manis dan menarik jika ditampilkan juga lebih banyak dokumentasi-dokumentasi untuk setiap tulisan sehingga membantu pembaca untuk lebih memiliki bayangan tentang apa yang diceriterakan
Kutipan favorit :
Senin, 12 April 2021
Sebuah Resensi Picisan : Semua Tampak Mustahil Sampai Berhasil Diselesaikan
Identitas Buku
Judul Buku : Semua Tampak Mustahil Sampai Berhasil Diselesaikan
Penulis Buku : Kathryn dan Ross Petras
Penerbit Buku : Elex Media Komputindo
Cetakan : Tahun 2016
Tebal : 277 Halaman
Buku yang dengan pemilihan font dan tata tulisan yang menarik, membuat kita sebagai pembaca tidak akan merasa bosan mebaca lebih dari 250 halaman dalam sekali duduk. Dilengkapi nama tokoh serta profesinya, membuat kita akan merasa lebih tertarik untuk bacaan lebih lanjut terhadap tokoh tsb. Diatas kutipan disertakan pula tema besar dari kutipan tsb sehingga lebih terklasifikasi.
Kekurangan :
Kutipan favorit :
Jumat, 26 Maret 2021
Sebuah Resensi Picisan : Korupsi
Identitas Buku
Judul Buku : Korupsi
Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Buku : Hasta Mitra
Cetakan : Tahun 2002
Tebal : 154 Halaman
Pram adalah master dalam mendeskripsikan latar belakang dan waktu dalam novelnya. Setiap kata, kalimat, frasa dalam buku ini berhasil membuat saya bisa mengimajinasikan tempat dimana tokoh-tokoh berdialog, tempat kejadian, suasana serta ambience-nya yang bercorak Indonesia tahun 1950an
Kekurangan :
Kutipan favorit :
"Keperwiraan!Keperwiraan!Keperwiraan menghadapi segala-galanya. Cukup keperwiraan yang bisa menolong Indonesia,pak"
Selasa, 23 Maret 2021
Sebuah Resensi Picisan : Komunitas Arab di Surabaya 1900 - 1942
Identitas Buku
Judul Buku : Komunitas Arab di Kota Surabaya 1900-1942
Penulis Buku : Drs. Artono, M.Hum
Penerbit Buku : Publisher Kendi
Cetakan : Tahun 2021
Tebal : 139 Halaman
"Suku Arab di Indonesia adalah minoritas yang mayoritas", mungkin itu adalah salah satu kalimat yang bisa saya simpulkan setelah membaca buku ini. Sebagai salah satu komunitas yang cukup dominan dalam sejarah bangsa Indonesia, saya memang cukup jarang melihat buku yang mengulas mengenai komunitas Arab di Indonesia baik di rak-rak toko buku maupun di media sosial penerbit-penerbit. Saya secara pribadi memiliki ketertarikan mengenai hal ini, terlebih saat ini saya tinggal di perkampungan Arab di Surabaya persis sesuai dengan lokasi yang dibahas dibuku inj. Dengan adanya buku ini membuat saya memiliki sedikit pemahaman secara historis tentang siapa dan bagaimana komunitas Arab lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia. Secara khusus buku ini juga merujuk pada salah satu buku karangan Huub de Jonge yang membuat saya semakin ingin mendalami mengenai komunitas Arab khususnya yang mengaku memiliki genealogi dengan Nabi Muhammad SAW.
Uraiannya sangat padat dan jelas. Tidak ada kata-kata njlimet dan berulang sehingga pembaca tinggal menelan saja apa yang disampaikan penulis. Catatan kaki dibawah terutama sangat membantu untuk mencari rujukan buku selanjutnya.
Kekurangan :
Kutipan favorit :
"Indonesia, simbol persatuanku
Minggu, 10 Januari 2021
Sebuah Resensi Picisan : Ayat-Ayat Cinta
Identitas Buku
Judul Buku : Ayat-Ayat Cinta
Penulis Buku : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Buku : Republika
Cetakan : Tahun 2008
Tebal : 410 Halaman
Ringkasan
Fahri bin Muhammad Siddiq adalah mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia adalah seseorang yang khusuk, visi dan cita-cita yang jelas, didulung dengan kerja keras yang ia lakukan sejak pertama kali ia menginjak tanah Mesir. Suatu ketika ia menolong seseorang gadis Mesir bernama Noura dengan bantuan tetangganya bernama Maria. Maria adalah seorang gadis Kristen Koptik yang diam-diam menyukai Fahri. Sebagai Muslim yang taat, Fahri sangat menjaga bagaimana ia berinteraksi dengan lawan jenis, namun justru itulah yang membuat Maria menyukai Fahri.
Kelebihan :
Novel yang mudah dipahami dengan laur yang mudah dicerna pula. Meskipun memiliki latar belakang agama, namun dijabarkan secara gamblang dan tak membosankan. Penulis juga dibekali ilmu agama yang mumpuni sehingga mampu menjelaskan banyak masalah yang menjadi mungkin menjadi pertanyaan pembaca diluar Islam dengan sangat jelas dan masuk akal. Kelebihan lainnya adalah latar belakang kota Kairo yang dijelaskan dengan sangat detail sehingga menambah "kelezatan" saat menikmati buku ini
Kekurangan :
Meskipun sangat subjektif, saya merasa buku ini akan lebih apik kalau disajikan dalam font yang lebih besar.
Kutipan favorit :
"Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk kedalam sukma. Aku ingin masuk kedalamnya. Disana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku berwudhu sekarang juga." - Maria Girgis
Sebuah Resensi Picisan : Malcom X Untuk Pemula
Identitas Buku
Judul Buku : Malcolm X Untuk Pemula
Penulis Buku : Bernard Aquina Doctor
Penerbit Buku : Resist
Cetakan : Tahun 2006
Tebal : 185 Halaman
Ringkasan
Malcolm X, terlahir sebagai Malcolm Little adalah satu dari dua tokoh besar kesetaraan warga kulit hitam Amerika. Dia dan Martin Luther King dianggap sebagai motor utama penggerak hak warga kulit hitam didekade 1950-1960 terlebih setelah undang-undang Jim Crow dan paket kebijakan rasialis lain diberlakukan di Amerika Serikat.
Kelebihan :
Buku yang cukup "dilahap" dalam satu dudukan. Didukung ilustrasi-ilustrasi bergaya Pop sehingga sangat menarik untuk dibaca. Banyak informasi tambahan yang berkaitan mengenai latar belakang pemikiran atau kehidupan tokoh utama sehingga menambah khasanah kita mengenai sudut pandang pemikiran tokoh utama.
Kekurangan :
Dikarenakan isi buku ini berwarna hitam pitih sehingga terkesan sangat sederhana. Kemudian bagi saya pribadi, fase hidup tokoh utama saat konfrontasi dengan Martin Luther King juga sangat terbatas dalam pembahasan.
Kutipan favorit :
"Dipersenjatai dengan pengetahuan masa lalu kita, kita dapat merancang masa depan kita. Hanya dengan mengetahui dimana kita sebelumnya, kita dapat mengetahui dimana kita sekarang, dan mengetahui dimana kita akan pergi" - Malcolm X
Senin, 14 Desember 2020
Sebuah Resensi Picisan : Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991
Identitas Buku
· Judul Buku: Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991
· Penulis Buku: Rupert Butler
· Penerbit Buku: Elex Media Komputindo
· Cetakan: Tahun 2017
· Tebal: 197 Halaman
Ringkasan
Menilik sejarah Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet dibawah Stalin yang penuh dengan kekejaman ternyata tidak serta-merta dan sekonyong-konyong muncul dari sisi paranoid dan maniak Joseph Stalin sendiri. Disajikan dalam buku ini bahwa sisi kekejaman Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet adalah warisan turun temurun sejak jaman kekuasan Tsar yang dilanjutkan Vladimir Lenin dan kemudian menjadi begitu masif dibawah kepemimpinan-kediktatoran Stalin. Ironisnya hal ini kemudian menular ke pemimpin pasca-Stalin seperti Kruschev-Breshnev serta negara-negara penganut Komunis yang lain. Diktator Proletarian yang memimpin masyarakat tanpa kelas yang dicita-citakan Marx dan pencetus awal Sosialisme berubah menjadi tak lebih dari sekedar Diktator penuh ego dan nafsu untuk menjaga kekuasaan itu sendiri.
800 ribu diperkirakan tewas pada era Stalin dibawah eksekusi NKVD dan SMESRH. 1,7 orang tewas di Gulag yang dikirim oleh dinas intelijen sedangkan 5,5 hingga 7 juta orang tewas karena kelaparan disebabkan program Kolkhoz atau Pertanian Kolektif ala Stalin. Semuanya berkat campur tangan Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet. Hingga saat kata “Holodomor” masih tercatat dalam buku sejarah dan membekas dalam benak rakyat Ukraina. Hal ini tidak berkurang kekejamannya saat berkecamuknya perang dingin, upaya bunuh-membunuh antar intelijen dan saksi intelijen begitu menghebohkan dunia hingga menimbulkan booming bertemakan intelijen di era tahun 60an.
Buku ini menurut pendapat saya tidak berusaha mengekspoitasi keburukan suatu Negara atau institusi. Buku ini hanya menampilkan fakta dengan penelitian mendalam yang menurut saya berguna bagi kita, khususnya pembaca yang tidak pernah mengalami secara langsung apa yang terjadi di Dunia saat Uni Soviet masih berdiri, agar tidak meromantisasi hal-hal yang berbau Sosialisme dan Komunisme. Karena sama seperti Kapitalisme sendir (meskipun saat ini sistemnya masih tegak berdiri), Komunisme dan Sosialisme memiliki sisi kelam yang tidak patut untuk dielu-elukan serta diagung-agungkan.
“One death is a tragedy; one million is a statistic” Joseph Dugashvili Stalin
Kelebihan :
Tata bahasanya teratur dilengkapi dengan dokumentasi serta foto yang apik.
Kekurangan ;
Bagi pembaca awam akan membingungkan untuk memahami beberapa istilah mengenai Uni Soviet meskipun di halaman belakang terdapat daftar istilah. Akan lebih baik juga jika dibeberapa bagian dicantumkan peta agar tidak menimbulkan kebingungan terkait letak geografis
Selasa, 01 Desember 2020
Sebuah Resensi Picisan : Origin
Identitas Buku
Judul Buku : Origin
Penulis Buku : Dan Brown
Penerbit Buku : Bentang
Cetakan : Tahun 2017
Tebal : 513 Halaman
Ringkasan
Selaku mantan dosen dan seorang rekan dekat, Robert Langdon diundang secara mendadak oleh Edmond Kirsch, seorang futuris-miliarder teknologi-filantropis dalam suatu gala di Barcelona, Spanyol. Dalam acara yang dipandu oleh Ambra Vidal, seprang model sekaligus calon Ratu Spanyol tsb ternyata Edmond Kirsch hendak memaparkan suatu temuan ilmiah yang menurut pendapat Edmond akan meruntuhkan sistem kepercayaan dan agama di dunia. Namun disaat tengah-tengah presentasinya, secara mengenaskan Edmond Kirsch dibunuh oleh mantan perwira angkatan laut Spanyol bernama Laksamana Avilla atas perintah sosok misterius bernama Sang
Regent.
Robert Langdon dan Ambra Vidal akhirnya harus mengungkapkan temuan ilmiah Edmond Kirsch ditengah rumitnya kasus pembunuhan Esmond Kirsch yang melibatkan Guardia Real, polisi dan Laksamana Avilla yang kini memburu Langdon dan Vidal. Robert Langdon dan Ambra Vidal dibantu kecerdasan buatan ciptaan Edmond Kirsch bernama Winston berusaha menemukan file data temuan Kirsch yang disimpan di gawai Kirsch yang dikunci sandi 47 karakter huruf. Untuk menemukan kunci sandi ini, Langdon dan Vidal harus menelusuri karya seni arsitek Gaudi, syair-syair Churchill dan seniman lain agar bisa mengungkapkan temuan ilmiah yang konon bisa menjelaskan "darimana manusia berasal dan kemana manusia setelah mati"
Kelebihan :
Deskripsi tata ruang yang dijelaskan apik. Latar belakang cerita mengenai sejarah, agama dan seninya sungguh dapat menambah khasanah kebudayaan seseorang.
Kekurangan :
Bagi pembaca lawas Dan Brown akan sanggup menebak arah plotnya. Plot, latar belakang cerita, klimaks, twist-nya hampir semua hanya merupakan metode salin-kutip dari 4 karya sebelumnya yang ditokoh utamai Robert Langdon yaitu The Da Vinci Code, Angel and Demon, The Lost Symbol dan Inferno. Yang membuat berbeda hanyalah inti kasus yang diungkap serta karya seniman-seniman yang mewarnai cerita buku ini.
Kutipan favorit :
"Kesuksesan adalah kemampuan untuk menjalani satu kegagalan ke kegagalan yang lain tanpa kehilangan perasaan antusias" - Winston Churchill
Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #17 : Syukur dan Rasa Cukup
Sudah satu minggu ini saya sedikit menambah doa saya selepas selesai sembahyang. Dari "Tuhan jadikan saya Farah Fleur Finix menjadi ora...
-
Dunia adalah padang rumputku Tuhan adalah Rajaku Akhirat adalah Istana Rajaku Mencapai istana adalah Titah Rajaku .. Nafsu, Raga...
-
"Datang dari mimpi semalam Bulan gundah Bermandikan sejuta cahaya Di langit yang merah..." Lagu ini saya dengar pertama kali di ka...
