Minggu, 12 Desember 2021

Quote Ceria Aulia #5

 "Hidup seperti Imam Syafi'i. Kalau ada yang suka ya disyukuri, untuk silaturahmi. Kalau ada yang nggak suka ya disyukuri, tidak akan ganggu hidup kita. Kalau ngeliat dunia itu enteng sekali" (Dikutip dengan sedikit penyesuaian )


KH Ahmad Bahaudin Nursalim, Tafsir Jalalain Surah Shad 1-8, 19 Des 2019




Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #9 : Yoni Pratama

 Gedangan, 12 Desember 2021


Saya bersyukur sore ini kami tidak sengaja berkunjung ke rumah salah satu teman saya sejak jaman SMP.  Namanya adalah Yoni Pratama. Kami sudah saling kenal karena kami sama-sama bersekolah di SMPN 4 Surakarta, kemudian sama-sama melanjutkan di SMAN 1 Surakarta dan bersambung berkawan hingga saat ini. Fisik Yoni sangat kontras dengan sifatnya. Tubuh Yoni tinggi besar dengan kulit sawo matang sehingga timbul kesan angker bagi yang belum mengenalnya. Namun lucunya selalu tersungging senyum di wajahnya. Tutur katanya selalu halus dan bernada lembut khas Priyayi Solo. Sifatnya pun selalu ramah dan bersahabat.

Yoni seingat saya selalu seperti itu sejak pertama saya mengenalnya di masa SMP lebih dari 15 tahun yang lalu. Selalu ramah dan selalu tersenyum pada siapapun. Setahu saya ia tak pernah punya musuh dan sepertinya semua orang juga menyukainya. Entah memang ia ingin tak ingin cari musuh atau pembawaannya memang dari lahir begitu, baik pada semua orang. Saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Yoni ketika ia sedang ada masalah atau dalam tekanan pekerjaan, meskipun saya percaya bahwa besar kemungkinan ia akan tetap selow dan tersenyum menghadapinya.



 Yoni sangat sesuai dengan perilaku yang menurut orang tua saya "Wong mono bisa'a apik marang liyan, bisa'a amrih piye carane ora nglarani ati dulur kancane, insyaAllah Gusti bakal bales. Neg ora diwales bandha, ya diwales sehat. Neg ora diwales dunya, ya mengko neg akherot. Neg ora tiba awakmu, ya nggo anak turunmu." (Manusia kalau bisa berbuat baik dengan sesama, bagaimana caranya agar tidak menyakiti hati kawan dan saudaranya, insyaAllah Tuhan akan membalas. Kalau tidak berupa harta, ya dibalas berupa kesehatan. Kalau tidak dibalas di dunia, ya nanti di akhirat. Kalau tidak dibalas padamu, ya nanti untuk anak keturunanmu). 

Ya, segala budi baik, ketulusan, kelembutan dan keramahan manusia tetap akan berbalas.  Di kala saat ini manusia berbuat baik sering karena dilandasi keinginan hutang budi, percaya atau tidak Tuhan dan Semesta Raya sudah memiliki catatannya sendiri. Kita harus seperti Yoni dimanapun dan kapanpun kita berada. Kalau meminjam istilah kawan saya yang beragama Hindu "Yoni sedang dan selalu menanam karma baiknya dan suatu saat ia akan memanen buah karma baik itu kembali".

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #8 : Anak Milik Tuhan

 Meja Makan di Ampel, 11 Desember 2021.


Saya bersyukur mengikuti berita yang sedang heboh di media massa dan lini masa mengenai 21 santriwati yang "diperkosa" oleh guru ngajinya. Sebagai bapak dengan dua anak dengan anak perempuan kami yang sulung baru berumur 5 tahun, tentunya berita ini membuat hati saya teriris sekali karena berita ini layaknya berita saham, muncul setiap hari dan beritanya diminati. Banyak yang mengajukan berbagai pertaanyaan lucu seperti "kenapa berita-berita perkosaan seperti ini baru muncul sekarang?kenapa harus guru ngaji?apakah ini dalam rangka skema besar penghancuran institusi agama?" dan banyak lagi.

Kalis Mardiasih, seorang aktivis perempuan menyebutkan dalam akun sosial medianya bahwa sebetulnya kekerasan seksual sudah ada sejak dulu dan jumlahnya sudah banyak namun dahulu kekerasan seksual dinormalisasi oleh media. Masyarakatpun dahulu masih menganggap kekerasan seksual adalah sebuah aib yang harus ditutup-tutupi dan korban belum bisa mengemukakan apa yang terjadi padanya. Belum lagi pendidikan seksual masih sangat tabu dan wanita masih dihambat gerakannya untuk melawan kekerasan yang terjadi padanya. Masalah guru ngaji? bukankah seorang pemuka agama tidak hanya Islam saja namun juga Kristen, Katolik, Budha dan lain lain sudah sering diberitakan adalah pelaku utama dibanyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Bukan tanpa alasan bahwa serial kartun "South Park" sering menjadikan pastor sebagai bahan guyonan utamanya dibanyak episode. 

Lagi, saya bukan seorang ahli dibidang gender atau ilmu sosial namun saya hanyalah orang tua yang ingin menjaga anaknya sebaik mungkin agar terhindar dari bahaya kekerasan seksual. Saya dan istri bersyukur karena tumbuh besar dikeluarga dimana ayah saya selalu lembut dan tidak pernah main tangan pada ibu saya dan anak-anaknya. Kamipun bersyukur dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa mengalami pelecehan atau hal lain dalam hidup kami. Kedua hal ini adalah modal awal kami untuk mendidik dan usaha kami dalam menjauhkan Fleur dan Finix dari hal-hal yang tidak kami inginkan. Namun itu belum cukup.

Diskusi dengan kawan-kawan saya membuat saya tersadar bahwa membesarkan anak dizaman sekarang jauh lebih sulit daripada dahulu saat ayah saya membesarkan saya. Apa yang kami diskusikan membuat saya dan istri merasa harus belajar lebih. Kami harus mulai membaca buku terkait pola mendidik anak, bermusyawarah berdua mengenai bagaimana kami mendidik mereka, berdiskusi lebih dengan rekan-rekan kami seumuran, memilah - memilih-menemani apa yang Fleur dan Finix lihat di televisi dan youtube, mulai berdiskusi dengan mereka sesuai umur tumbuh kembangnya, dan yang paling sulit mendampingi dan mengawasi orang-orang disekitar kami.

Apakah hal itu itu cukup untuk menghilangkan semua potensi bahaya yang ada? Sekali lagi itu tidak cukup. Kadang saya sendiri takut sekali jika terjadi sesuatu hal pada kedua buah hati kami (Naudzubillahi min dzalik!). Takut apakah kami berdua sudah membesarkan mereka dengan semaksimalnya sehingga mereka nantinya dapat tumbuh besar menjadi seorang yang bertanggung jawab dan baik dimata Tuhan dan masyarakat. Namun apa daya, sayapun manusia biasa.



Hingga suatu malam saat saya menatap Fleur dan Finix yang sedang pulas tidur, saya mendapatkan ketenangan. Saya sadar bahwa mereka berdua adalah anak milik Tuhan yang dititipkan pada saya dan Istri. Tugas yang Tuhan berikan pada saya adalah menjaga, mendidik dan mencintai mereka semampu dan semaksimal yang kami bisa. Sisanya kami serahkan pada Tuhan Sang Penguasa Semesta Alam. Semakin kami merasa bahwa Fleur dan Finix adalah milik kami pribadi, semakin tidak maksimal kami dalam mendidik mereka, semakin tumbuh kekhawatiran dan ketakutan dalam diri kami. Tuhan akan memberikan yang terbaik selama kami berusaha dan berdoa sebaik mungkin. 

Saya yakin itu.

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim

Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sabtu, 04 Desember 2021

Justice League > Super Team

Terkadang saya mengernyit ketika mendengar kata-kata yang populer di berbagai instansi dan perusahaan.

"Jangan jadi Superman tapi jadilah Super Team"


Bagi saya, Super Team seakan-akan berisi manusia-manusia All-Arounder dengan kapasitas medioker yang dipaksa menjadi bisa mengerjakan berbagai fungsi, sehingga jika sewaktu-waktu bagian lain tidak berjalan normal, ia bisa dipindahkan sebagai subtitusi fungsu yang abnormal tsb.

Implikasi ekstremnya adalah semua manusia All-Arounder tadi akan dianggap tidak spesial dan mudah digantikan, 

Cih

"Kenapa harus jadi Super Team kalau kita bisa jadi Justice League", kira-kira begitu pikir saya. Unik dan Kuat secara Individu namun terpadu dan solid secara organisasi.


Jumat, 03 Desember 2021

Quote Ceria Aulia #4

 "Hobinya Allah itu mengampuni hambanya"

 Habib Muhammad bin Anies Shahab



Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #6 : Akhyari Hananto

Ampel, Surabaya, 13 November 2021


"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda" Tan Malaka

Pagi tadi kami sekeluarga sudah bersiap untuk mencari sarapan. Istri saya sudah sejak kemarin mengusulkan untuk mencari makan pagi di sebuah kedai Soto Boyolali di seputaran Mall Grand City Surabaya yang kami temukan lokasinya beberapa bulan yang lalu.
"Adek butuh yang kuah-kuah panas,Sayang" ujar istri saya. Si bungsu, Finix, sejak kemarin agak kurang sehat dan suhu badannya diatas normal. Masuk angin kalau menurut pandangan kami berdua.
Sesampainya di kedai tsb, istri saya segera memesan beberapa porsi soto dan lauk kemudian kami duduk dengan pose sudah ready di meja menunggu santapan datang.

Sembari ngobrol, tak sengaja pandangan mata saya tertuju pada mobil Nissan yang baru saja. Seorang pria keluar dari mobil disusul oleh wanita dan anak-anak kecil yang saya asumsikan sebagai keluarga pria tsb. Tiba-tiba mata kami bertemu pandang. Meskipun ia memakai masker dan saya hanya memandang mata dan pola wajah pria itu, saya merasa mengenalinya. Saya mengangguk dan iapun membalas anggukan itu.
Saya menyapa "Betul Mas Akhyari Hananto ya?"
Ia menjawab "Iya betul, kok tau Mas?"
Kami kemudian berkenalan serta berbincang sejenak. Lalu saya mengungkapkan padanya betapa tulisannya menginspirasi saya, lantas saya dan beliau saling meminta ijin untuk berswafoto satu sama lain.
Namanya adalah Akhyari Hananto. Beliau adalah pendiri Good News From Indonesia (GNFI), sebuah kanal media yang menyajikan berita-berita positif mengenai kondisi dan perkembangan negara tercinta kita, Indonesia. Beliau mendirikan GNFI sebagai bentuk protes atas masifnya berita-berita negatif yang beredar di media massa nasional baik cetak maupun elektronik. Ia merasa berita-berita negatif tadi akan meracuni para generasi muda dan penerus bangsa yang dikhawatirkan akan berimbas pada keruhnya pola pikir dan kerdilnya cita-cita generasi muda khususnya bagi kemajuan bangsa dan negara. Seolah-olah melawan frasa terkenal "bad news is a good news", ia kemudian sering menulis berbagai berita dan perkembangan positif yang terjadi di Indonesia di blog pribadinya yang kemudian berkembang menjadi website dan kanal-kanal berita di berbagai media sosial yang lain. Kanal-kanalnya merambah mulai dari twitter hingga Instagram yang telah diikuti oleh lebih dari 650ribu orang.

Namun bukan itu yang ingin saya ungkapkan di tulisan ini, bukan mengenai sosok beliau. Tapi mengenai momen bertemu dengan beliau. 
Bertemu langsung dengan beliau pagi ini membuat saya menemukan "api" yang selama ini  saya pikir sudah padam.
Api yang dulu membuat saya bersemangat untuk bangun pagi membaca materi kuliah
Api yang dulu membuat saya "mampu" bercita-cita tinggi sekaligus meyakininya
Api yang dulu membuat saya rela mengulang-ulang lagu "Braveheart" dari Koji Wada agar tetap teguh dan kuat saat menghadapi masa-masa sulit.
Bertemu dengan beliau membuat saya menemukan kembali idealisme saya dalam menjalani apa yang saya cita-citakan.
Bertemu dengan beliau seakan menandakan bahwa  saya harus menjalani hidup derap kencang seperti Lokomotof dengan "api" yang saya temukan kembali yang membakar tungku ketel saya.
Bertemu dengan beliau seakan saya melihat Tuhan tersenyum mengangguk seraya berkata "Let's Go!"

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #7 : Lego Milik Tuhan

Tol Cikampek, 2 Desember 2021.


"God's will is like a jigsaw puzzle, you won't be able to see the whole picture until all the pieces are together" - Danny L. Deaube

Pagi ini saya akan memulai perjalanan ke Jakarta.
Sekedar menengok sembari mengira-ngira bagaimanakah kami sekeluarga akan menjalani kehidupan kami bulan depan di Ibukota.
Tepat 10 tahun lalu saya berikrar bahwa saya akan berusaha semampu untuk tidak berkarir di kota megapolitan itu.
"Aku akan sukses tanpa menginjakkan kaki di kota laknat itu" ujar saya seolah menantang langit.
Namun Tuhan  berkata lain.
Settingan-Nya memang serba Maha.
Segala ketakutan saya mengenai kota itu memang tidak menghilang, tapi seakan Ia melengkapinya dengan keyakinan.
Ditatah-Nya hati saya dengan kelembutan.
Ditempa-Nya mental saya dengan api suci.
Disusun-Nya segala logika saya dengan kepasrahan.
Hingga ketika kantor saya menyatakan saya harus pindah, saya menerimanya dengan senyum dan tenang.
Tenang seakan tahu bahwa Tuhan sudah menyiapkan segala perangkat-Nya untuk menyambut kami disana.
Saya kini tahu Tuhan memiliki seperti lego yang membentuk hidup dan takdir saya.
Disusun-Nya lego hidup saya satu per satu.
Balok per balok,
yang saya yakin bentuknya nanti akan indah.
Namun saya yang terlalu kerdil dan bodoh untuk memahami bentuknya saat ini.
Memang siapalah saya ini untuk memahami Karya-Nya
Seorang homo sapiens dengan IQ rata-rata yang bahkan memahami bagaimana bentuk Boson dan konsep Ekuinoks saja masih bingung.
Yang sering terlalu sombong hingga kadang merasa bahwa dirinya adalah pusat semesta alam.
..


Kini bentuk Lego-Nya mulai nampak.
Segala yang diatur-Nya terasa berbentuk.
Halangan dan rintangan disingkirkan-Nya.
Apa yang memang menjadi ketentuan-Nya menjadi simpel dan mudah, disaat kami pasrah dalam menjalaninya.
Karena Dia lebih tahu, daripada homo sapiens yang hina dina ini

" Tuhan mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Tuhan melainkan apa yang dikehendaki-Nya." QS 1-255


  

Kamis, 18 November 2021

Kata Bersayap #5 : Ibu

Siang ini aku mendapat kabar gembira.
Aku yakin jika ku bercerita Istri dan Anakku akan bangga.
Begitu pula dengan Papa, Ibuku dan Adikku.
Namun bagaimanapun juga, takkan bisa mengalahkan cerahnya wajah Mamaku jika beliau mendengar kabar ini.
Takkan bisa kubayangkan wajah bangga beliau.
Ooo
Tapi kuyakin ada live-monitor disana.
Ia sudah bersorak sorai hari ini sambil menepuk-nepuk bahu malaikat yg setia menemani di taman surganya disana.
"Lihat, itu anakku!!" ujarnya bangga

Jumat, 12 November 2021

Kata Bersayap #4

"God is in The Rain" Evey Hammond - V For Vendetta The Movie

Pagi ini di Jakarta Pusat seratus ribu manusia mengumpat hujan dan banjir bandang, lima puluh ribu manusia merindukan hujan sembari menyesap teh hangat.

Jumat minggu lalu, di Bogor tiga puluh ribu manusia mendamba hujan, lima ribu lima ratus manusia menyumpahi hujan

Di Bekasi dua puluh ribu manusia berharap tak ada air menetes dari langit, empat ribu manusia mengais rejeki saat seribu galon air tumpah ruah dari awan.




..

Seratus ribu lebih manusia berdoa sesuai keinginan dan kepentingannya masing-masing.

Berharap doanya lebih kuat dan lebih kabul dari saudaranya sesama manusia.

Sedangkan Tuhan?

Tuhan bergerak sesuai kehendak-Nya sendiri, sembari menimbang mana yang lebih adil dan mana yang resikonya lebih kecil, dan menyesuaikannya dengan seratus ribu lebih takdir  manusia.

"Ya Tuhan, turunkan pada kami hujan yang bermanfaat" doa Sayyidina Rasulillah Maulana Muhammad Ibn Abdillah SAW

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #5

 Ampel, Surabaya, 10 November 2021.


Pagi ini ketika bangun entah kenapa saya langsung meraih tangan istri saya.

Sontak ia berkata "Ayah, selamat ulang tahun!!!"

Jujur saja saya lupa kalau hari ini saya genap berumur 32 tahun.

Saya kecup keningnya dan ia mulai berucap banyak doa bagi saya.

Saya mengamininya seraya memeluknya erat dan berterima kasih atas semua doa indah yang ia panjatkan, kemudian saya bangun untuk mengambil air wudhu.

..

Sesuai salam sholat subuh, tiba-tiba terdengar Suara menggema dari sela bilik-bilik terdalam Batin saya.

Diantara banyak lipatan kenangan dan memori, Suara itu muncul memanggil-manggil. Saya berusaha mencari sumber Suara itu.

Suara itu makin kencang dan saya terdiam, saya ingin mendengar apa yang Ia katakan.

Ternyata itu adalah Suara diri saya sendiri, Suara yang banyak dikenal orang dengan Higher Self.

"Hai" katanya, "duduklah".

Kemudian duduklah saya sembari memasang muka datar.

"Selamat Ulang Tahun ya" ujarnya.

Saya tersenyum simpul.

"Bagaimana kalau misal hari ini kita jadikan sebagai hari Wejangan dariku?"

Saya mengangguk. Tak ada salahnya, toh hari ini saya hanya akan melakukan pekerjaan rutin saya. Diam dan merenung tidak akan mengganggu runititas saya hari itu, baik sebagai ayah maupun sebagai pegawai.

..



Kemudian dimulailah sesi wejangan dari Diri Saya.

"Umurmu sudah 32 tahun, setengah jalan menuju umur ideal Baginda Nabi Muhammad, 63 tahun.

Sudah waktunya engkau berkomitmen pada Tuhanmu, alhamdulillah puji Tuhan engkau sudah rutin sholat dhuha dan puasa Senin-Kamis. Namun kita masih bisa melihat banyak hal yang bisa di improve. Sholat tahajudmu masih sebulan sekali. 5 ayat Al-Quran setiap setelah sholat fardlu juga masih jauh dari kenyataan. Banyak sekali ibadah rutinanmu yang menghilang.

Konsumsi gawaimu masih gila-gilaan. Farah, Fleur dan Finix masih menjadi nomor dua dalam aktifitasmu, karena Samsung masih menjadi nomor satu. Bisakah kau berkomitmen untuk mengurangi waktu bercumbu dengan gawaimu hanya menjadi satu setengah jam sehari?Tak bisa?kau masih ingin fokus ke menyelesaikan game Digimon-mu? Bagaimana dengan konsumsi Youtube-mu?mulailah saja dari situ.

Banyak hal yang ingin kau lakukan, Aku rasa semua bermanfaat, ambillah porsi waktunya dari konsumsi gawaimu.

Untuk karirmu, bisakah kamu fokus dan kerja sungguh keras pada fase proses-nya? Tahun lalu kamu sungguh meributkan hasil-nya, padahal itu bukan ranah dan areamu. Kamu sudah tahu "ujung" yang kamu inginkan dan sejak awal kamu tidak mempermasalahkan harus lewat jalan mana, istiqamah saja dengan hal itu. Untuk semua hal yang kamu overthinking-kan selalu berakhir dengan kegagalan, segala sesuatu yang berjalan lancar sedari awal dan kamu pasrahkan pada Tuhanmu selalu bernasib dengan baik. Selalu, seperti itu, sejak 12 tahun yang lalu.

Peluklah sering-sering Farah-Fleur-Finix, ajaklah mereka bercanda. Jangan terlalu kaku dan keras dengan Kekasihmu Farah itu, jangan pula terlampau berjarak dengan kedua Buah Hatimu. Sering-seringlah membaca dengan mereka berdua meskipun mereka terkadang enggan.

Keraslah pada dirimu, lembutlah pada orang lain, berdermalah selayaknya engkau jutawan, jangan terlalu tereksploitasi dengan hape-mu

dan yang terpenting, nikmatilah setiap detikmu dan setiap ibadahmu."

Ia berdiri, mengecup kening saya seraya berbalik dan berlari masuk kembali kedalam temaram, tersembumyi di gang-gang memori saya.

"Sering-seringlah mengajakku ngobrol" teriaknya dari kejauhan.

..

Tak terasa sudah pukul 22.00, saya mencium kening istri saya dan Fleur-Finix yang sudah terlelap tidur.

"Sial. Ternyata cukup lama juga dia menasehati saya" batin saya



Selasa, 09 November 2021

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #4

6 November 2021,07.33
Tunjungan-Embong Malang, Surabaya.

Sabtu pagi itu Kakek dan Nenek Fleur dan Finix datang berkunjung dari Pacitan. Mereka akan menginap barang sehari-dua hari untuk mengunjungi cucu-cucu kesayangan. Saya dan istri memutuskan mengajak mereka sarapan di salah satu kedai soto terkenal di kawasan Tunjungan, Surabaya. Dikarenakan masih khawatir akan bahaya virus dimasa pandemi, kami berenam memutuskan untuk duduk di meja di bagian luar kedai. Seperti biasa, sembari menunggu pesanan kami datang kami bersenda gurau. Terlihat kebahagiaan  terpancar dari sorot mata ayah dan ibu saya ketika melihat polah tingkah si Sulung dan Bungsu kami.
Tak jauh dari tempat kami duduk terlihat seorang bapak berumur kisaran 50 an, curi-curi pandang melihat kami berenam. Tersungging senyum simpul setiap beliau melihat kami, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke keramaian jalan, menatap kosong jalan yang mulai padat itu.
Melihat kami lagi, tersenyum, lalu beralih memandang jalan  dan termenung kembali.
Berulang kali.

Ya, foto diatas adalah foto Sang Bapak.
Sesekali pandangan mata kami bertemu dan saya tersenyum padanya, beliau pun membalas dengan anggukan, kemudian termenung memandang kosong lagi ke jalan.
Saya menerka dalam hati tentang apa yang ada dalam kepala Sang Bapak
 "Apa yang sedang kau pikirkan pak?
 Rindukah engkau dengan istri anakmu? 
Dimanakah mereka?
Mengapa diakhir pekan yang cuacanya bagus ini kau duduk termenung seorang diri?
Mengapa engkau tak berkumpul bersama mereka?
Pak, apakah engkau melihat kami kemudian teringat keluargamu?
Apakah kau berharap bersama mereka sekarang?
Ataukah kau juga tertawa melihat kelucuan anak-anakku dan teringat akan cucumu?"

Beraneka asumsi dan pertanyaan timbul tenggelam dibenak saya.
Kemudian seketika saya tersenyum dan bersyukur pada Tuhan.
Ayah, Ibu, Ayah Mertua dan Ibu Mertua saat ini ada dalam keadaan sehat sentausa.
Kering dibawah atap yang hangat tanpa khawatir kehujanan.
Tercukupi kebutuhannya.
Bisa menikmati sujud mereka lima waktu dalam sehari.
Mampu menatap anak-anak mereka dengan bangga.
Sanggup tertawa mendengar celoteh cucu-cucunya.

"Apalagi yang kau inginkan?" kata seseorang menggema didalam relung hati saya yang terdalam.

Kami berenam beranjak dari tempat duduk kami saat usai makan, lalu berjalan menuju mobil. Melewati Sang Bapak yang kala itu masih termenung, menatap kosong hiruk-pikuknya Jalan Embong Malang, Tunjungan, Surabaya.
Tergerak saya untuk menyorongkan beberapa puluh ribu rupiah padanya namun hati saya menahannya.
"Belum Was, cukup doakan saja Beliau. Kita tidak tahu bagaimana reaksinya kalau kau menjulurkan uang itu." ujar batin saya.

Kemudian saya berlalu dan masuk ke mobil.
"Sehat selalu pak dan bahagialah" kata saya dalam hati. 

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #16 : Lagu baru favoritku itu bernama Sunyi

Semakin tua aku Semakinku menyukai lagu yang sunyi hening ditengah hiruk pikuk dunia Diselangi irama celotehan lucu Fleur dan Finix Diantara...