Kamis, 08 April 2021

Kata Bersayap #1

Dengan seni, budaya, dan ilmu, manusia menjadi lebih manusiawi.
Layaknya Goethe, Mozart dan Havelaar.
..
Namun terkadang, 
Dengan seni, budaya, dan ilmu pulalah, manusia melewati batas kemanusiaan itu sendiri.
Seperti Lecter, Mao dan Manson.

Jumat, 26 Maret 2021

Sebuah Resensi Picisan : Korupsi

Identitas Buku 

Judul Buku : Korupsi

Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit Buku : Hasta Mitra

Cetakan : Tahun 2002

Tebal : 154 Halaman

Ringkasan 

"Jangan pernah berharap keadilan di dunia ini" kira-kira begitu salah satu kutipan sendu dari Buya Yahya tentang timpangnya kehidupan ini. Keadilan adalah hal mahal di dunia nyata, kontras dengan apa yang disampaikan di novel "Korupsi" karya Penulis Besar Indonesia, Pram. Biasanya Pram sering menampilkan realitas tentang betapa timpang dan tidakadilnya kehidupan, seperti di seri keempat Tetralogi Buru "Rumah Kaca". Namun buku ini menampilkan sebaliknya, diakhir cerita si tokoh utama mendapatkan balasan setimpal atas apa yang dia lakukan.
Berlatar belakang Indonesia era demokrasi parlemen dimana korupsi,suap dan politik dagang sapi merajalela, buku ini menceritakan tokoh utama yang merupakan seorang kepala sebuah kantor dinas jawatan di Jakarta. Seorang kepala keluarga yang "family man", jujur, tegas, disiplin dan anti suap namun dikarenakan prinsip anti suapnya, hidupnya sangat pas-pasan dibandingkan rekan-rekan sejawatnya yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang korup. Kebutuhan akan pendidikan, tekanan ekonomi serta "pekarangan tetangga yang lebih hijau" mengikis perlahan-lahan idealisme tokoh utama. Gabungan dari jabatan tinggi, peluang, keinginan dan bobroknya sistem membuatnya mencicip sedikit demi sedikit dosa korupsi. Dosa korupsi itupun perlahan mulai merubah sifat dan kehidupan tokoh utama. Dari semula pria setengah baya yang setia pada istri, ayah yang dekat dengan anak-anaknya, atasan yang menjadi tauladan, serta pribadi yang ramah menjadi pria setengah baya yang hobi memelihara gundik, menelantarkan anak-istrinya, mempermalukan posisinya, serta membuang jauh kesusilaan.
Akhir cerita, si tokoh utama mendekam dalam penjara dengan penyesalan terlebih saat dihakimi dihadapan anak-istri yang telah ditinggalkannya serta anak buah yang dulu begitu mengaguminya.

Kelebihan : 

Pram adalah master dalam mendeskripsikan latar belakang dan waktu dalam novelnya. Setiap kata, kalimat, frasa dalam buku ini berhasil membuat saya bisa mengimajinasikan tempat dimana tokoh-tokoh berdialog, tempat kejadian, suasana serta ambience-nya yang bercorak Indonesia tahun 1950an

Kekurangan : 

Plotnya terkesan sangat sederhana, datar, dan tidak njlimet seperti karya Pram yang laim

Kutipan favorit : 
"Keperwiraan!Keperwiraan!Keperwiraan menghadapi segala-galanya. Cukup keperwiraan yang bisa menolong Indonesia,pak"

Selasa, 23 Maret 2021

Sebuah Resensi Picisan : Komunitas Arab di Surabaya 1900 - 1942

Identitas Buku 

Judul Buku : Komunitas Arab di Kota Surabaya 1900-1942

Penulis Buku : Drs. Artono, M.Hum

Penerbit Buku : Publisher Kendi

Cetakan : Tahun 2021

Tebal : 139 Halaman


Ringkasan 

"Suku Arab di Indonesia adalah minoritas yang mayoritas", mungkin itu adalah salah satu kalimat yang bisa saya simpulkan setelah membaca buku ini. Sebagai salah satu komunitas yang cukup dominan dalam sejarah bangsa Indonesia, saya memang cukup jarang melihat buku yang mengulas mengenai komunitas Arab di Indonesia baik di rak-rak toko buku maupun di media sosial penerbit-penerbit. Saya secara pribadi memiliki ketertarikan mengenai hal ini, terlebih saat ini saya tinggal di perkampungan Arab di Surabaya persis sesuai dengan lokasi yang dibahas dibuku inj. Dengan adanya buku ini membuat saya memiliki sedikit pemahaman secara historis tentang siapa dan bagaimana komunitas Arab lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia. Secara khusus buku ini juga merujuk pada salah satu buku karangan Huub de Jonge yang membuat saya semakin ingin mendalami mengenai komunitas Arab khususnya yang mengaku memiliki genealogi dengan Nabi Muhammad SAW.
Dikarenakan buku ini adalah pengembangan dari suatu tesis , tentunya buku ini menggunakan susunan kalimat dan kosa kata resmi khas penelitian ilmiah. Keakurasian buku ini juga terjamin karena disandarkan pada laporan-laporan, surat kabar dan penelitian pada jaman kolonial bukan hanya pada asumsi penulis. Dalam banyak bagian, saya juga tidak menemukan sudut pandang yang bias penulis. Semua disampaikan seobjektif mungkin.
Saya tahu mungkin banyak yang bertanya apa manfaat membaca buku ini? Dari saya pribadi, memahami komunitas Arab ini sangat penting, agar mampu menempatkan komunitas Arab sesuai pada porsinya di masyarakat. Terlebih saat ini masyarakat yang beragama Islam Indonesia sedang memiliki semangat dalam beragama yang sangat tinggi dan tidak dapat dipungkiri, komunitas Arab memiliki tempat tinggi dalam pandangan masyarakat Islam, sehingga sangat mungkin adanya mis-konsepsi dan timbul reaksi berlebihan jika terjadi sesuatu menyangkut komunitas Arab di Indonesia

Kelebihan : 

Uraiannya sangat padat dan jelas. Tidak ada kata-kata njlimet dan berulang sehingga pembaca tinggal menelan saja apa yang disampaikan penulis. Catatan kaki dibawah terutama sangat membantu untuk mencari rujukan buku selanjutnya.

Kekurangan : 

Saya akan sangat senang jika  gambar dan peta ditempatkan diantara paragraf-paragraf buku ini, terlebih gambar yang berwarna. Penempatan gambar (apalagi yang hitam putih) dibagian belakang buku agak merepotkan membaca dan kurang membantu pembaca untuk mengimajinasikan apa yang dijelaskan penulis.

Kutipan favorit : 
"Indonesia, simbol persatuanku
Indonesia, tanah dimana aku dilahirkan
Kesatuan orang Arab di Indonesia semakin cerah
Kita tetap setia"

Selasa, 12 Januari 2021

Sebuah Resensi Picisan : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Identitas Buku 

Judul Buku : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Edisi Revisi)

Penulis Buku : Cindy Adams

Penerbit Buku : Yayasan Bung Karno - Media Pressindo

Cetakan : Tahun 2018

Tebal : 432 Halaman



Ringkasan 

"Bung Karno adalah Indonesia", mungkin itu adalah salah satu jargon yang bisa menggambarkan beliau semasa hidup. Begitu identiknya beliau dengan negeri ini sampai apapun yang beliau putuskan semasa beliau menjabat tetap dikaji dan dibahas oleh manusia Indonesia saat ini.
Buku otobiografi ini dibuat di era dimana Bung Karno betul-betul menjadi pemain uatama dalam perpolitikan Indonesia. Kala itu Bung Sjahrir, Bung Hatta, Dr. Radjiman, Mr. Sartono berada dalam senjakala karir politik mereka, sehingga sangat khas bahwa otobiografi ini menampilkan sosok Bung Karno yang tengah memegang "power" di Indonesia.
Buku ini disajikan berurutan mengisahkan sejak beliau lahir, dewasa, masa pengasingan, pernikahan, hingga saat beliau menjabat Pemimpin Besar Revolusi dan Presiden Seumur Hidup, pembaca akan dibawa di Indonesia ke medio tahun 1900 hingga awal 60an. Bagi yang pembaca yang awam sejarah, saya sangat merekomendasikan membaca buku ini ditemani gawai agar bisa segera "googling" untuk mengecek, misalnya, kondisi Bengkulu tahun 1946 agar semakin mudah menginterpretasi dan masuk dalam apa yang dikisahkan Bung Karno.
Sesungguhnya bagi saya tidak mudah menceritakan isi buku ini, karena pada dasarnya saya juga masih belajar mendeskripsikan bagusnya kualitas suatu buku, sama sepeeti menceritakan kelezatan suatu masakan. 
Tapi salah satu poin penting yang saya pelajari setelah membaca dan membaca ulang buku ini, jangan terperangkap pada karisma seseorang. Seseorang bisa saja menjadi pemuja fanatik Bung Karno setelah membaca buku ini, kemudian bisa berbalik menjadi pencaci-nya yang hebat setelah membaca buku yang menggambarkan sisi buruk beliau. Bung Karno adalah manusia, tidak luput dari dosa, kekurangan, nafsu dan keinginan terhadap kekuasaan, terlepas dari cinta dan jasa beliau yang tak berperi bagi negeri kita, Indonesia.

Kelebihan : 

Bagi pembaca awam yang ingin memahami pemikiran Bung Karno tentunya  akan sangat menyukai karya ini, saya teringat betapa merindingnya saya saat beliau mengisahkan pertemuannya dengan seorang petani bernama Marhaen yang menginspirasi beliau untuk menggali ideologi Marhaenisme. Kata-kata beliau yang menggebu-gebu disampaikan ke Cindy Adams dan dituliskan hingga sampai ke kita semua. Antara romantis, pedas, lugas seakan-akan beliau sendiri yang menuturkan ke kita, menyampaikan itu. Membuat kita akan jatuh hati kepada Sang Proklamator itu, kepada pemikiran beliau, kepada cinta beliau pada Indonesia.
Terkadangpun kita akan merasa tidak memerlukan sisi lain dari cerita beliau, cukup dari apa yang beliau sampaikan, itulah kebenaran yang kita yakini.

Kekurangan : 

Saya pribadi lebih menyukai cetakan yang lama (sebelum edisi revisi). Penggunaan kata-kata pada edisi revisi ini lebih diperhalus sehingga terkesan lebih hambar. Bagi beberapa orang yang sudah pernah membaca karya Bung Karno, akan lebih menyukai gaya-gaya tulisan beliau yang lebih lugas dan "galak". Pada bab saat Bung Karno menjelaskan sikap beliau saat diberitakan oleh pers Barat saat kunjungan di Hawai misalnya, pada Edisi Revisi ini dirubah kata-katanya, sedangkan pada versi asli (Edisi Lama) sangat terasa kata-kata pedas, ketidaksukaan serta kritik yang dilontarkan Bung Karno pada pers Barat.

Kutipan favorit : 
"Apabila aku telah mencapai sesuatu selama diatas dunia, ini adalah karena rakyatku. Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburkanlah Bapakmu menurut agama Islam dan diatas batu kecil yang biasa engkau tulislah kata-kata sederhana : Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" - Bung Karno

Minggu, 10 Januari 2021

Sebuah Resensi Picisan : Ayat-Ayat Cinta

Identitas Buku 

Judul Buku : Ayat-Ayat Cinta

Penulis Buku : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit Buku : Republika

Cetakan : Tahun 2008

Tebal : 410 Halaman



Ringkasan 

Fahri bin Muhammad Siddiq adalah mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia adalah seseorang yang khusuk, visi dan cita-cita yang jelas, didulung dengan kerja keras yang ia lakukan sejak pertama kali ia menginjak tanah Mesir. Suatu ketika ia menolong seseorang gadis Mesir bernama Noura dengan bantuan tetangganya bernama Maria. Maria adalah seorang gadis Kristen Koptik yang diam-diam menyukai Fahri. Sebagai Muslim yang taat, Fahri sangat menjaga bagaimana ia berinteraksi dengan lawan jenis, namun justru itulah yang membuat Maria menyukai Fahri.
Dilain pihak, Fahri yang pernah membantu dan membela seorang Amerika bernama Alicia, membuat seorang gadis Turki bernama Aisha jatuh hati. Aisha kemudian meminta paman Aisha yang juga kenalan Fahri untuk melamar Fahri.
Masalah kemudian muncul saat Noura melaporkan Fahri ke polisi dan menuduh Fahri menghamilinya. Fahri kemudian berjuang bersama Aisha untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Dibantu Maria, keluarga Maria serta berbagai koneksi Fahri, akhirnya Fahri berhasil membuktikan dipengadilan bahwa ia tidak bersalah. Namun diakhir cerita, setelah Maria menikahi Fahri dan menjadi istri kedua Fahri setelah Aisha, Maria meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya.

Kelebihan : 

Novel yang mudah dipahami dengan laur yang mudah dicerna pula. Meskipun memiliki latar belakang agama, namun dijabarkan secara gamblang dan tak membosankan. Penulis juga dibekali ilmu agama yang mumpuni sehingga mampu menjelaskan banyak masalah yang menjadi mungkin menjadi pertanyaan pembaca diluar Islam dengan sangat jelas dan masuk akal. Kelebihan lainnya adalah latar belakang kota Kairo yang dijelaskan dengan sangat detail sehingga menambah "kelezatan" saat menikmati buku ini

Kekurangan : 

Meskipun sangat subjektif, saya merasa buku ini akan lebih apik kalau disajikan dalam font yang lebih besar.

Kutipan favorit : 
"Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk kedalam sukma. Aku ingin masuk kedalamnya. Disana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku berwudhu sekarang juga." - Maria Girgis

Sebuah Resensi Picisan : Malcom X Untuk Pemula

Identitas Buku 

Judul Buku : Malcolm X Untuk Pemula

Penulis Buku : Bernard Aquina Doctor

Penerbit Buku : Resist

Cetakan : Tahun 2006

Tebal : 185 Halaman



Ringkasan 

Malcolm X, terlahir sebagai Malcolm Little adalah satu dari dua tokoh besar kesetaraan warga kulit hitam Amerika. Dia dan Martin Luther King dianggap sebagai motor utama penggerak hak warga kulit hitam didekade 1950-1960 terlebih setelah undang-undang Jim Crow dan paket kebijakan rasialis lain diberlakukan di Amerika Serikat.
Putra seorang pendeta ini lahir dengan kecerdasan diatas anak-anak pada umumnya dan belajar tentang kerasnya dunia dan pedihnya rasisme Amerika Serikat sedari kecil. Ayahnya diduga dibunuh geng rasis kulit putih dengan ditabrakkan ke kereta api saat Malcolm berusia 6 tahun. Hidupnya kemudian berpindah-pindah dari satu geng ke geng lain, dari satu ghetto ke ghetto lain, sambil mempelajari segala yang ia ketahui mengenai dunia hitam.
Saat berusia 21 tahun, ia dipenjara 10 tahun di Penjara Kelas Menengah Kota Charlestown dimana ia berkenalan dengan organisasi Nation of Islam (NOI). Mulailah Malcolm menemukan tujuan baru dalam hidupnya dan memperbaiki dirinya. Tak lama ,kecerdasannya menarik perhatian pemimpin NOI, Elijah Muhammad dan membuatnya moncer dan menjadi inspirator bagi banyak kaum kulit hitam Amerika Serikat.
Skandal-skandal didalam NOI membuat Malcolm memutuskan keluar dari NOI dan membuat organisasinya sendiri Muslim Inc. yang mendapat bantuan dari banyak negara Arab. Kunjungan dan Ritual ibadah hajinya membuat Malcolm memutuskan pindah menjadi muslim suni dan membuat pandangannya menjadi lebih jelas mengenai masalah ras dan kesetaraan di Amerika.
Disaat-saat terakhir hidupnya, Malcolm X menjadi buruan CIA, NOI dan banyak organisasi rasis kulit putih. 21 Februari 1965, Malcolm dijadwalkan menyampaikan pidato disebuah pertemuan. Dihadapan Istri dan anak-anaknya yang ikut hadir, Malcolm X ditembak mati oleh terduga simpatisan NOI

Kelebihan : 

Buku yang cukup "dilahap" dalam satu dudukan. Didukung ilustrasi-ilustrasi bergaya Pop sehingga sangat menarik untuk dibaca. Banyak informasi tambahan yang berkaitan mengenai latar belakang pemikiran atau kehidupan tokoh utama sehingga menambah khasanah kita mengenai sudut pandang pemikiran tokoh utama.

Kekurangan : 

Dikarenakan isi buku ini berwarna hitam pitih sehingga terkesan sangat sederhana. Kemudian bagi saya pribadi, fase hidup tokoh utama saat konfrontasi dengan Martin Luther King juga sangat terbatas dalam pembahasan.

Kutipan favorit : 
"Dipersenjatai dengan pengetahuan masa lalu kita, kita dapat merancang masa depan kita. Hanya dengan mengetahui dimana kita sebelumnya, kita dapat mengetahui dimana kita sekarang, dan mengetahui dimana kita akan pergi" - Malcolm X

Senin, 14 Desember 2020

Sebuah Resensi Picisan : Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991

 Identitas Buku

·       Judul Buku: Dinas Intelijen Stalin; Sejarah Kekejaman CHEKA, OGPU, NKVD, SMERSH, dan KGB: 1917-1991

·       Penulis Buku: Rupert Butler

·       Penerbit Buku: Elex Media Komputindo

·       Cetakan: Tahun 2017

·       Tebal: 197 Halaman



Ringkasan

Menilik sejarah Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet dibawah Stalin yang penuh dengan kekejaman ternyata tidak serta-merta dan sekonyong-konyong muncul dari sisi paranoid dan maniak Joseph Stalin sendiri. Disajikan dalam buku ini bahwa sisi kekejaman Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet adalah warisan turun temurun sejak jaman kekuasan Tsar yang dilanjutkan Vladimir Lenin dan kemudian menjadi begitu masif dibawah kepemimpinan-kediktatoran Stalin. Ironisnya hal ini kemudian menular ke pemimpin pasca-Stalin seperti Kruschev-Breshnev serta negara-negara penganut Komunis yang lain. Diktator Proletarian yang memimpin masyarakat tanpa kelas yang dicita-citakan Marx dan pencetus awal Sosialisme berubah menjadi tak lebih dari sekedar Diktator penuh ego dan nafsu untuk menjaga kekuasaan itu sendiri.

800 ribu diperkirakan tewas pada era Stalin dibawah eksekusi NKVD dan SMESRH. 1,7 orang tewas di Gulag yang dikirim oleh dinas intelijen sedangkan 5,5 hingga 7 juta orang tewas karena kelaparan disebabkan program Kolkhoz atau Pertanian Kolektif ala Stalin. Semuanya berkat campur tangan Dinas Intelijen dan Polisi Rahasia Uni Soviet. Hingga saat kata “Holodomor” masih tercatat dalam buku sejarah dan membekas dalam benak rakyat Ukraina. Hal ini tidak berkurang kekejamannya saat berkecamuknya perang dingin, upaya bunuh-membunuh antar intelijen dan saksi intelijen begitu menghebohkan dunia hingga menimbulkan booming bertemakan intelijen di era tahun 60an.

Buku ini menurut pendapat saya tidak berusaha mengekspoitasi keburukan suatu Negara atau institusi. Buku ini hanya menampilkan fakta dengan penelitian mendalam yang menurut saya berguna bagi kita, khususnya pembaca yang tidak pernah mengalami secara langsung apa yang terjadi di Dunia saat Uni Soviet masih berdiri, agar tidak meromantisasi hal-hal yang berbau Sosialisme dan Komunisme. Karena sama seperti Kapitalisme sendir (meskipun saat ini sistemnya masih tegak berdiri), Komunisme dan Sosialisme memiliki sisi kelam yang tidak patut untuk dielu-elukan serta diagung-agungkan.

“One death is a tragedy; one million is a statistic” Joseph Dugashvili Stalin

Kelebihan :

Tata bahasanya teratur dilengkapi dengan dokumentasi serta foto yang apik.

Kekurangan ;

Bagi pembaca awam akan membingungkan untuk memahami beberapa istilah mengenai Uni Soviet meskipun di halaman belakang terdapat daftar istilah. Akan lebih baik juga jika dibeberapa bagian dicantumkan peta agar tidak menimbulkan kebingungan terkait letak geografis


Selasa, 01 Desember 2020

Sebuah Resensi Picisan : Origin

Identitas Buku

Judul Buku : Origin

Penulis Buku : Dan Brown

Penerbit Buku : Bentang

Cetakan : Tahun 2017

Tebal : 513 Halaman



Ringkasan

Selaku mantan dosen dan seorang rekan dekat, Robert Langdon diundang secara mendadak oleh Edmond Kirsch, seorang futuris-miliarder teknologi-filantropis dalam suatu gala di Barcelona, Spanyol. Dalam acara yang dipandu oleh Ambra Vidal, seprang model sekaligus calon Ratu Spanyol tsb ternyata Edmond Kirsch hendak memaparkan suatu temuan ilmiah yang menurut pendapat Edmond akan meruntuhkan sistem kepercayaan dan agama di dunia. Namun disaat tengah-tengah presentasinya, secara mengenaskan Edmond Kirsch dibunuh oleh mantan perwira angkatan laut Spanyol bernama Laksamana Avilla atas perintah sosok misterius bernama Sang
Regent
.


Robert Langdon dan Ambra Vidal akhirnya harus mengungkapkan temuan ilmiah Edmond Kirsch ditengah rumitnya kasus pembunuhan Esmond Kirsch yang melibatkan Guardia Real, polisi dan Laksamana Avilla yang kini memburu Langdon dan Vidal. Robert Langdon dan Ambra Vidal dibantu kecerdasan buatan ciptaan Edmond Kirsch bernama Winston berusaha menemukan file data temuan Kirsch yang disimpan di gawai Kirsch yang dikunci sandi 47 karakter huruf. Untuk menemukan kunci sandi ini, Langdon dan Vidal harus menelusuri karya seni arsitek Gaudi, syair-syair Churchill dan seniman lain agar bisa mengungkapkan temuan ilmiah yang konon bisa menjelaskan "darimana manusia berasal dan kemana manusia setelah mati"

Kelebihan :

Deskripsi tata ruang yang dijelaskan apik. Latar belakang cerita mengenai sejarah, agama dan seninya sungguh dapat menambah khasanah kebudayaan seseorang.

Kekurangan :

Bagi pembaca lawas Dan Brown akan sanggup menebak arah plotnya. Plot, latar belakang cerita, klimaks, twist-nya hampir semua hanya merupakan metode salin-kutip dari 4 karya sebelumnya yang ditokoh utamai Robert Langdon yaitu The Da Vinci Code, Angel and Demon, The Lost Symbol dan Inferno. Yang membuat berbeda hanyalah inti kasus yang diungkap serta karya seniman-seniman yang mewarnai cerita buku ini.

Kutipan favorit :
"Kesuksesan adalah kemampuan untuk menjalani satu kegagalan ke kegagalan yang lain tanpa kehilangan perasaan antusias" - Winston Churchill

Rabu, 18 November 2020

Umma, dingin


"Umma, dingin"
Aku tau,Nak
Yang Umma tak tau salah apa yang kita lakukan pada mereka

"Umma,dingin"
Tenang,Nak tenang
Kupeluk engkau dengan erat
Kalau perlu kubakarkan pakaianku agar dingin tak merajammu

"Umma,dingin"
Buah cintaku, doa dan tetes air mata kupanjatkan pada Rabb agar berkenan menghangatkan tubuhmu

"Umma,dingin"
Aku tau nak, sama seperti saudara-saudaramu nun jauh disanapun tau.
Hanya mereka terkekang dalam bisu
Sekedar mendoakanmu

"Umma,dingin"
Salju ini adalah peringanmu nak,Umma mencintaimu tapi Allah akan lebih mencintaimu

"Umma,dingin"
Umma ridla nak. Kalaupun engkau bergegas pulang mungkin itulah yang terbaik.

"Umma,dingin"
Temuilah Izrail dengan ceria,Nak. Mintakan Syafaat bagi kami dari Sayyidina Muhammad lewat tawamu yang cerah.
Jemput Umma dan Abimu kelak dipintu Jannah diiringi nyanyian merdu Hurul-aini.

Pergilah Nak, Ummamu masih harus menahan dingin lebih lama.
.
.
.
.
Umma,dingin
Lalu peluk aku erat,sama saat pertama aku menatap kerling matamu.

Umma,dingin
Suara keras apa itu Umma , apakah suara truk yang membawa selimut dari saudaraku nun jauh telah datang?

Umma,dingin
Hangat hatimu Umma tetap tak mampu menahan salju yang merajam lembut kulit kecilku

Umma,dingin
Apa salahku Umma sampai robot dan kamarku tak ada lagi, menjadi tak lebih dari onggokan bata dan tirai

Umma,dingin
Peluk aku Umma,peluk

Umma,dingin
Ada yang menjemputku Umma
Izrail umma,tampan sekali ia. Berselut putih dan ramah.

Umma,dingin
Maafkan aku Umma,kata Izrail kawan-kawanku menungguku bermain bersama dalam rengkuhan Sayyidina Ibrahim 




Umma,sekarang sudah tak dingin lagi
Terima kasih Umma

Sabtu, 07 November 2020

Molta : Sebuah Dunia Imajiner Saya (Bagian 1)


Sebagai anak yang tumbuh besar dengan buku-buku cerita, saya sangat menyukai kisah-kisah mitologi khususnya mitologi Yunani. Buku-buku lapuk buatan pemerintah yang tak dipakai lagi diperpustakaan Dinas P dan K sering sekali dibawa almarhum Ibu saya. Buku tentang Heracles, Zeus, Hydra sungguh memukau saya. Cinta saya tentang mitologi semakin menggebu ketika mulai mengenal mitologi Nordik. Sejak saat itu semua gim, komik, buku cerita, laman yang berlatar belakang mitologi selalu saya konsumsi dengan antusias.

Kemudian tahun 2008 saya membaca buku "The Magical World of The Lord of The Rings" karya David Colbert, buku ini mengulas tentang bagaimana JRR Tolkien mengolah Lord of The Rings menjadi sebuah semesta fiktif, mitologi buatannya sendiri dengan segala pernak pernik bahasa dan makhluknya. Meskipun sampai detik ini saya belum pernah menyelesaikan 5 rangkaian Mahakarya Tolkien terkecuali The Hobbit (tentu saja untuk seri layar lebarnya saya sudah Khatam), namun saya sungguh sangat terpukau dengan semesta Middle Earth hingga tercetus di kepala saya "kenapa saya tidak mengkreasi semesta dan mitologi saya sendiri?". Ide itu begitu mengusik saya hingga iseng-iseng saya sering mencorat-coret dikertas kosong sambil mereka-reka dikepala saya tentang sebuah Dunia bernama Molta.

Molta terinspirasi dari beberapa sumber. Gim Brigandine, Mitologi Nordik, Mitologi Sumeria, Magical Weapon karangan Tony Wong dan tentu saja, Middle Earth-nya Tolkien.
Sebagai orang Indonesia yang sangat menggemari wayang dan (dulu)sering menonton wayang, sebetulnya saya sangat ingin memasukkan unsur-unsur lokal dalam Molta, namun juga selayaknya orang Indonesia yang sering merasa kerdil dengan budayanya sendiri, gagasan itu saya kesampingkan(hehehe). Pendapat saya saat itu lebih keren memasukkan unsur Mesopotamia seperti Ziggurat atau naga emas bernama Fafnir daripada memasukkan manusia yang bisa terbang seperti Gatotkaca.

Sampai saat ini gagasan tentang Molta masih berputar dikepala saya. Saya hanya bingung akan menuangkan dalam media apa. Cerita bersambung?saya tak pandai merangkai kata dan menulis bak pengarang.
Cerita bergambar?tangan saya mulai kaku untuk menggerakkan pensil dikertas putih.
Gurindam/puisi/sajak?ah saya tak se-edgy itu.










Sabtu, 17 Oktober 2020

Quote Ceria Aulia #2

"Mata air dari segala perbuatan dosa adalah tak ada nya rasa syukur dalam diri"

KH Yahya Zainul Maarif -  "Buya Yahya"

Menyusuri Setapak Berdua

Siang ini sungguh muak aku pada makhluk Biarlah sehari ini aku memandang Dunia sebagai ciptaan-Mu yang penuh, melihatnya tembus pada Kuasa-M...