Rabu, 18 November 2020

Umma, dingin


"Umma, dingin"
Aku tau,Nak
Yang Umma tak tau salah apa yang kita lakukan pada mereka

"Umma,dingin"
Tenang,Nak tenang
Kupeluk engkau dengan erat
Kalau perlu kubakarkan pakaianku agar dingin tak merajammu

"Umma,dingin"
Buah cintaku, doa dan tetes air mata kupanjatkan pada Rabb agar berkenan menghangatkan tubuhmu

"Umma,dingin"
Aku tau nak, sama seperti saudara-saudaramu nun jauh disanapun tau.
Hanya mereka terkekang dalam bisu
Sekedar mendoakanmu

"Umma,dingin"
Salju ini adalah peringanmu nak,Umma mencintaimu tapi Allah akan lebih mencintaimu

"Umma,dingin"
Umma ridla nak. Kalaupun engkau bergegas pulang mungkin itulah yang terbaik.

"Umma,dingin"
Temuilah Izrail dengan ceria,Nak. Mintakan Syafaat bagi kami dari Sayyidina Muhammad lewat tawamu yang cerah.
Jemput Umma dan Abimu kelak dipintu Jannah diiringi nyanyian merdu Hurul-aini.

Pergilah Nak, Ummamu masih harus menahan dingin lebih lama.
.
.
.
.
Umma,dingin
Lalu peluk aku erat,sama saat pertama aku menatap kerling matamu.

Umma,dingin
Suara keras apa itu Umma , apakah suara truk yang membawa selimut dari saudaraku nun jauh telah datang?

Umma,dingin
Hangat hatimu Umma tetap tak mampu menahan salju yang merajam lembut kulit kecilku

Umma,dingin
Apa salahku Umma sampai robot dan kamarku tak ada lagi, menjadi tak lebih dari onggokan bata dan tirai

Umma,dingin
Peluk aku Umma,peluk

Umma,dingin
Ada yang menjemputku Umma
Izrail umma,tampan sekali ia. Berselut putih dan ramah.

Umma,dingin
Maafkan aku Umma,kata Izrail kawan-kawanku menungguku bermain bersama dalam rengkuhan Sayyidina Ibrahim 




Umma,sekarang sudah tak dingin lagi
Terima kasih Umma

Sabtu, 07 November 2020

Molta : Sebuah Dunia Imajiner Saya (Bagian 1)


Sebagai anak yang tumbuh besar dengan buku-buku cerita, saya sangat menyukai kisah-kisah mitologi khususnya mitologi Yunani. Buku-buku lapuk buatan pemerintah yang tak dipakai lagi diperpustakaan Dinas P dan K sering sekali dibawa almarhum Ibu saya. Buku tentang Heracles, Zeus, Hydra sungguh memukau saya. Cinta saya tentang mitologi semakin menggebu ketika mulai mengenal mitologi Nordik. Sejak saat itu semua gim, komik, buku cerita, laman yang berlatar belakang mitologi selalu saya konsumsi dengan antusias.

Kemudian tahun 2008 saya membaca buku "The Magical World of The Lord of The Rings" karya David Colbert, buku ini mengulas tentang bagaimana JRR Tolkien mengolah Lord of The Rings menjadi sebuah semesta fiktif, mitologi buatannya sendiri dengan segala pernak pernik bahasa dan makhluknya. Meskipun sampai detik ini saya belum pernah menyelesaikan 5 rangkaian Mahakarya Tolkien terkecuali The Hobbit (tentu saja untuk seri layar lebarnya saya sudah Khatam), namun saya sungguh sangat terpukau dengan semesta Middle Earth hingga tercetus di kepala saya "kenapa saya tidak mengkreasi semesta dan mitologi saya sendiri?". Ide itu begitu mengusik saya hingga iseng-iseng saya sering mencorat-coret dikertas kosong sambil mereka-reka dikepala saya tentang sebuah Dunia bernama Molta.

Molta terinspirasi dari beberapa sumber. Gim Brigandine, Mitologi Nordik, Mitologi Sumeria, Magical Weapon karangan Tony Wong dan tentu saja, Middle Earth-nya Tolkien.
Sebagai orang Indonesia yang sangat menggemari wayang dan (dulu)sering menonton wayang, sebetulnya saya sangat ingin memasukkan unsur-unsur lokal dalam Molta, namun juga selayaknya orang Indonesia yang sering merasa kerdil dengan budayanya sendiri, gagasan itu saya kesampingkan(hehehe). Pendapat saya saat itu lebih keren memasukkan unsur Mesopotamia seperti Ziggurat atau naga emas bernama Fafnir daripada memasukkan manusia yang bisa terbang seperti Gatotkaca.

Sampai saat ini gagasan tentang Molta masih berputar dikepala saya. Saya hanya bingung akan menuangkan dalam media apa. Cerita bersambung?saya tak pandai merangkai kata dan menulis bak pengarang.
Cerita bergambar?tangan saya mulai kaku untuk menggerakkan pensil dikertas putih.
Gurindam/puisi/sajak?ah saya tak se-edgy itu.










Sabtu, 17 Oktober 2020

Quote Ceria Aulia #2

"Mata air dari segala perbuatan dosa adalah tak ada nya rasa syukur dalam diri"

KH Yahya Zainul Maarif -  "Buya Yahya"

Quote Ceria Aulia #1



"Saya mengatakan "1+1= 2" meskipun ndak ada yang memberikan hadiah tetap saya katakan "2". Saya tetap mengatakan air itu dingin, api itu panas meskipun ndak ada yang beri hadiah. Itu hakekat-hakekat seperti itu saja saya jujur tanpa ingin imbalan. Tapi mengenai hakekat mengenai Allah saya minta imbalan surga dan neraka ini apa-apaan?!"

KH Ahmad Bahaudin Nursalim - "Gus Baha"

Angin Pujaan Hujan X Puan Bermain Hujan


"Datang dari mimpi semalam
Bulan gundah
Bermandikan sejuta cahaya
Di langit yang merah..."

Lagu ini saya dengar pertama kali di kamar kos sahabat saya pada tahun 2011, saat saya mendengarkan lagu ini sekonyong-konyong saya merasa berada dalam awang-awang. Kosong. Sungguh kosong.
Hal itu terulang lagi saat Payung Teduh mengenalkan saya pada Puan Bermain Hujan
"Menjelma bayang bayang..
Dalam hening
Dalam kerinduan
Kudapati puan menangisi hujan
Meratapi hujan"
Saya merasakan ekstase yang hebat dalam hati saya. Anehnya pagi ini saya masih merasakan ekstase itu saat mendengarkan lirik lagu itu.
Lirik yang magis bak sudah dihitung cermat dengan numerologi Kaballah.
Petikan guitalele yang diluar nalar manusia
yang dipangku kontrabass yang berdentam anggun.
Suara Mas Is bak lantunan elf yang abadi saat memuja alam.
"...but this powerfull lyrics, it resonates with me" seperti kata Sin Lasalle dalam film Be Cool.
Mengutip Karen Armstrong, Musik dan Agama sebetulnya berada dalam satu diskursus yang sama, membawa manusia ke dasar hakikat batinnya tergantung bagaimana manusia tersebut mempersonalisasikan Musik atau Agama itu sendiri.
Saat mendengar Angin Pujaan Hujan dan Puan Bermain Hujan saya larut kedalam lagu tsb. Saya merasa mengalami pengalaman batiniah dengan emosi yang meluap. Sebuah ekstase.

Terkadang meluapnya kebahagiaan saat seolah-olah melihat Fleur dan Finix asik bermain ditengah hujan.
Terkadang meluapnya ketakjuban seakan-akan melihat padang gambut luas di kala terbit mentari di tengah Kalimantan.
Terkadang seperti membuncahnya kerinduan saat menatap kerling cantik mata istri saya.
Terkadang  perasaan euforia seolah saat lepas dari borgol dalam gua dan melesat keluar melihat cahaya.
Bahkan terkadang meluapnya perasaan girang riang saya terhadap Tuhan.

Tulisan pendek ini bukan mengenai siapa Payung Teduh, bukan pula mengulas tentang  mengenai sisu musikalitas mereka saat berada di puncak karir bermusiknya.
Tapi ini tulisan mengenai bagaimana saya sangat memuja kedua Mahakarya mereka,  secara subjektif mungkin, sejujur-jujurnya dan se-hiperbolis yang saya bisa.
Angin Pujaan Hujan dan Puan Bermain Hujan adalah puncak dari kejeniusan Payung Teduh, Dua Mahakarya Utama dari kumpulan mahakarya Payung Teduh. 
Angin Pujaan Hujan-Puan Bermain Hujan dan Payung Teduh adalah seperti..
Pieta-Daud dan Michelangelo
Monalisa dan Da Vinci
Godfather dan Francis Coppola
Tetralogi Buru dan Pram
Alfa Romeo Disco Volante dan Touring
Takkan ada yang bisa menjiplaknya
Takkan ada yang bisa mencipta ulang

Jumat, 16 Oktober 2020

Kuda dan Pelana


Dunia adalah padang rumputku

Tuhan adalah Rajaku
Akhirat adalah Istana Rajaku
Mencapai istana adalah Titah Rajaku
..
Nafsu, Raga dan Logika adalah Kuda Liarku
Sayyidina Muhammad adalah Guru Berkudaku
Agama dan Syukur adalah Pelana dan Ilmu Berkudaku
Mahabbah adalah ladamnya
..
Harta
Kepandaian
Fisik
Tak lebih dari surai, corak bulu, kelopak dari Sang Kuda Liar
..
Tak lebih

Karna Aku Rindu


Karna aku rindu

Kudendangkan selawat tentangmu sembari membuai anak lelakiku

Karna aku rindu
Kuceritakan tentangmu kepada anak perempuanku di kala malam

Karna aku rindu
Kubayangkan namamu di tengah ramainya Tarhim senja

Karna aku rindu
Kuulang namamu agar Engkau berkenan hadir di bunga tidurku

Karna aku rindu
Kutinggikan suara parauku saat namamu diucap di tengah bisingnya jalanan

Karna aku rindu
Kupaksakan agar rejekiku mengalir di antara tawa para Yatim agar kelak kau bersebelahan denganku

Semua itu
Karna aku rindu

Sisi Positif Corona


Membedakan mana yang berilmu, mana yang hanya berkuliah tinggi

Membedakan mana yang tidak bisa mengerti, mana yang tidak menghiraukan

Membedakan mana yang beribadah karena Tuhan, mana yang beribadah karena Nafsu.

Membedakan mana yang musibah-ujian-hukuman-istidraj, mana yang menjerumuskan dirinya sendiri

Membedakan mana yang harus keluar demi sesuap nasi, mana yang sekedar tidak peduli

#dirumahajadulu


#Dirumahajadulu
hanyalah kata yang digunakan kaum menengah kaya untuk melindungi ketakutan mereka

#Dirumahajadulu
tidak akan membantu bapak Kuli bapak Tani bapak Asongan

#Dirumahajadulu
ada agar kaum urban tak liar berpesta pora di mall bioskop dan warung kopi
 
#Dirumahajadulu
Tak kan membantu si papa, karena bagi mereka Corona 10% nyata dan Kelaparan 90% niscaya

#Dirumahajadulu
Hanya untuk kamu dan aku. Bukan anak yatim dan nenek buruh pemecah batu

#Dirumahajadulu
ada untuk menahan egomu
dan meningkatkan rasa berbagimu

#Dirumahajadulu
membuatku menulis yang takkan dibaca siapapun

Kepada Sang Pujangga

Pulanglah ke haribaan-Nya

Peluklah Ia dalam rumahNya yang Kudus

Kami ikhlaskan selaksa malaikat mencercap manisnya kidungmu

.

Maafkan aku

yang tak kunjung selesai mencercap nektar tintamu

Kamis, 15 Oktober 2020

Cerita Tentang Seorang Ayah Milenial




Pagi ini saya tergugah setelah beberapa hari cukup risau. Melihat linimasa media sosial,mendengar kisah sesama rekan-rekan ,melihat langsung dan membandingkan, saya merasa apa yang saya capai terlihat jauh tertinggal daripada rekan-rekan sebaya saya. Pagi ini pun saya kembali teringat seorang penyanyi yg lebih muda dari saya, diterima di suatu kampus paling bergengsi di dunia. Kemudian saya bertanya "kenapa saya hanya sampai disini saja?"

..

Simon Sinek pernah berkata " Generasi Milenial terbentuk dari mindset instant gratification dan akselerasi pencapaian hidup" (atau kira2 demikian lah kutipannya)

Ya,saya seorang yang lahir di tahun 90an,saya tumbuh besar di lingkungan dengan kompetisi pendidikan yang cukup ketat,  kedua orangtua saya berlatar belakang pendidikan yang lumayan baik dan saya begitu menjunjung tinggi prestasi akademik dan pencapaian-pencapaian lain..

Dan ya,saya begitu haus oleh pencapaian dan prestasi dalam hidup saya..

..

Kemudian saya termenung dan mengingat sebuah artikel berjudul "Ibu,aku hanya ingin menjadi orang yang bertepuk tangan dipinggir jalan" bahwa memang penting pencapaian-pencapaian itu tapi yang lebih penting adalah menjadi bahagia menjadi diri sendiri dan bersyukur karenanya..

..

Terkadang saya lupa bahwa saat ini Tuhan menghadiahi hidup saya dengan dua Bidadari Cantik yang senantiasa ingin melihat saya tertawa

Saya lupa keempat orang tua saya sehat dan senantiasa mendukung saya

Lupa bahwa kedua adik saya mapan dengan jalan hidupnya masing-masing

Lupa kalau kami rekan kerja selalu riang gembira meskipun pekerjaan membuat kami harus berpeluh hingga kusut masai

Dan saya sendiri sampai detik ini diberkahi kesehatan dan masih bisa mengingat-Nya 5 waktu sehari..

..

Target hidup saya akan tetap tinggi tapi setidaknya sekarang saya sadar untuk harus sering-sering bersandar sebentar mensyukuri merayakan hidup dan berhenti terlalu membandingkan "saya dan mereka"

..

"How foolish is man! He ruins the present while worrying about the future, but weeps in the future by recalling his past!"- Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A.

Tanjung Tabalong, 2018

Menyusuri Setapak Berdua

Siang ini sungguh muak aku pada makhluk Biarlah sehari ini aku memandang Dunia sebagai ciptaan-Mu yang penuh, melihatnya tembus pada Kuasa-M...