Minggu, 25 Agustus 2024

Kata Bersayap #8

Ngelmu Kyai Petruk


Swarga durung weruh
Neraka durung wanuh
Mung donya sing ku weruh
Urip aja duwe mungsuh

Ribang bumi ribang nyawa
Ana beja ana cilaka
Ana urip ana mati
Precil mijet wohing ranti

Senenge sak klentheng, 
Susahe sak rendheng
Aja seneng neg duwe, 
Aja susah neg ra duwe

Umpluking samudra, 
kethuk ing sambikala
Laku lampah saderma, 
Aja gumede aja jumawa


(Dicuplik dari Air Kata-Kata karya Sindhunata, dipopulerkan oleh Jogja Hiphop Foundation
Ilustrasi oleh www.infosoloraya.com)

Quote Ceria Aulia #8

Tuhanmu adalah Tuhan yang sama yang mendinginkan api Nabi Ibrahim dan yag membelah lautan Nabi Musa
Jangan Takut selagi Allah bersamamu

La Tahzan Innallaha ma 'anna

Ustadz Lukmanul Hakim -Pontianak

Senin, 25 September 2023

Kata Bersayap #7

Kala seorang pendosa nista
Ingin selalu bisa menikmati zikir dan selawat bak nektar manis
Memandangi ayat dan huruf dalam Al-Furqan bak menikmati indahnya hijau gunung dan rerumputan
Melangkahkan kaki ke Masjid seumpama melangkah ke tepian sungai di hari yang panas
Mengumpuli orang-orang pencari ilmu dan orang sholeh seakan menikmati berburu kunang-kunang di antara padang ilalang
Mendengar seraya menikmati kesunyian di penghujung malam, menunggu Kekasih Yang Agung turun berkunjung.
Menikmati ketidakbisaannya melakukan semua itu tadi bersamaan, karena Kekasihnya pun mencintainya saat ia melakukannya sedikit demi sedikit.
Dalam hening
Dalam sepi


*gambar diunduh dari https://www.google.com/amp/s/jernih.co/spiritus/wali-sufi-yahya-bin-muadz-jika-engkau-telah-menemukan-dia-apa-faedahnya-perjumpaan-kita/%3famp=1

Minggu, 24 September 2023

Quote Ceria Aulia #7

"Apa solusi dari Nabi? Sukailah ibadah, sukalah dengan hal-hal yang diperbolehkan Allah. Suami istri diperbolehkan berhubungan, sehingga tertidur oleh sesuatu yang halal. Orang yang punya hati yang halus, mengipasi anak sampai tidur, itu gembiranya bukan main. Padahal tanpa dugem..

Artinya, orang bisa senang tidak harus melakukan maksiat. Makanya, untuk melawan kesenangan maksiat, Allah memberi satu resep yaitu 'Senanglah dengan ketaatan',"

Rama Kyai Haji Ahmad Bahaudin Nursalim

Gratitude Journal Of Bapak Dua Anak #13 : Kenangan

Beberapa waktu lalu saat melakukan salah satu kebiasaan buruk saya yaitu "scroll shorts di Instagram", saya sempat menemukan postingan bagus mengenai seorang Ibu yang menemani anaknya menatap bintang ditengah malam. Pendek cerita, ketika sang Ibu tiba-tiba terjaga ditengah malam, ia iseng mengecek anaknya yang sedang tertidur dikamar. Ia kaget ketika sang Anak bukannya sedang terlelap namun sedang menatap bintang-gemintang. Alih-alih memarahi anaknya atau memaksa anaknya masuk dan melanjutkan tidur, si Ibu malah menemani sang Anak menikmati pemandangan langit malam itu. Si Ibu berharap ia dapat membuat "kenangan saat menatap bintang" yang akan diingat sang Anak hingga besar kelak.
Bukankah itu sangat menyenangkan?
Membuat kenangan dengan orang tua yang akan meninggalkan kesan dan inspirasi bagi kita hingga saat kita tua kelak. Kenangan tadi bisa menjadi pegangan kita dimasa depan untuk melangkah. Lucunya  bisa saja kenangan yang kuat, indah dan mendalam yang kita miliki saat ini tak sengaja dibuat oleh orang tua kita dahulu.
Kenangan saya dengan kakek saya yang paling saya ingat adalah bagaimana kakek, nenek dan saya begadang tengah malam, menggelar kasur didepan tv sembari menikmati acara wayang di Indosiar. Masih tergambar jelas di kepala bagaimana pendar sinar tv malam itu yang menyelimuti ruang keluarga gelap yang sengaja lampunya dimatikan. Nenek saya yang tak bisa tidur sedang menikmati camilan. Lengkingan suara lokomotif dari Stasiun Balapan tak jauh dari rumah Nenek. Bagi saya "kenangan" tadi membekas dan meninggalkan pesan bahwa saya dicintai.
Malam ini tadi, pukul 22.30, saat saya belum bisa tidur serta batuk yang makin tak karuan, saya berniat "membersihkan" isi kulkas berisi camilan yang tak dihabiskan anak-anak. Tiba-tiba si Bungsu Finix menyusul saya. Saya putuskan membuat kudapan mi gelas untuk kami berdua, memanaskan air untuk segelas Energen sereal, membuka Oreo, kemudian setelah menghabiskan camilan-camilan diatas didepan kulkas, dia minta diceritakan tentang salah satu Dinosaurus kesukannya yaitu jenis Stegosauridae.
Iseng saya ambil kamera dan saya abadikan momen tsb sembari berharap Aktifitas kami didepan kulkas tadi akan tertanam dibenaknya, dan saat dia mengingatnya akan terkirim pesan bahwa "Ayahku mencintaiku"

Kamis, 03 Agustus 2023

Quote Ceria Aulia #6

Mulane kowe ki nyambut gawe, panggah obah, sak cukupe.
Wayahe ngaji, ngaji.
Wayahe ngibadah, ngibadah.
Neg kowe arep nata uripmu dhewe kangelan, pasrahne Gusti Allah.
Kowe ki dudu Gusti Allah, kok kowe ndadak nata.
Diplanning urip e ngene-ngene.
Beh kesuwen kaya wong mendo

Makanya kalian itu kerja, aktifitas, secukupnya saja.
Waktunya ngaji, ngaji. Waktunya ibadah, ya ibadah.
Kalau kamu mau menata hidupmu sendiri, sulit; pasrahkan pada Allah.
Kamu kan bukan Allah ko belagak menata hidup.
Di-planning hidup itu begini-begitu.
Kelamaan kaya orang tolol.


Ustadz Muhammad Iqham Kholid (Gus Iqdam) - Blitar

Sebuah Resensi Picisan : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Identitas Buku 

Judul Buku : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Penulis Buku : Salim Haji Said

Penerbit Buku : Penerbit Mizan

Cetakan Tahun : 2016

Tebal Buku : 379 halaman


Ringkasan :

Salim Haji Said sebagai salah satu peneliti ilmu politik terkemuka Indonesia mempersembahkan satu buku cerdas yang dapat memberikan gambaran pada kita bagaimana perputaran arus kekuasaan di sekitar "The Smiling General" Soeharto. Sebagai orang Indonesia yang lahir di era 90an, kesan saya mengenai Presiden Soeharto hanyalah 3 hal. Orang yang membuat Indonesia tenang, tenteram, sekaligus menakutkan. Membaca buku ini membuat saya lebih dalam memahami mengapa beliau bisa membuat Indonesia menjadi tenang, tenteram sekaligus menakutkan. Beliau begitu jenius mengelola orang-orang kuat disekitarnya, memanipulasi psikologis masyarakat serta memainkan catur politik Indonesia, selama 30 tahun. 
Khususnya buku ini lebih terfokus pada bagaimana kisah Presiden Soeharto dalam menjalin hubungan dengan dengan tokoh-tokoh militer disekitarnya sejak era awal Orde Baru hingga turunnya beliau di 21 Mei 1998 serta kisah-kisah. Dibagi menjadi 14 bab, dimana 9 menjelaskan relasi pak Harto dengan setiap tokoh-tokoh militer yang berada dilingkaran dalam beliau serta 5 bab tambahan mengenai masalah Dwifungsi ABRI hingga proses pencalonan Presiden Soeharto menjadi Jenderal Bintang 5. Dalam 9 bab inilah kita bisa mengagumi kedalaman pengetahuan serta keluasan koneksi Salim Haji Said sehingga mampu mendapatkan banyak inside information yang hanya bisa didapat dari ring 1 pak Harto. Keberanian Salim Haji Said dalam mewawancara tokoh-tokoh yang terkenal angker dan bengis namun tetap dapat mendapatkan informasi yang terpercaya adalah hal yang patut diacungi jempol. Tak kurang hubungan pak Harto dengan 10 Jenderal penting Indonesia yang membentang dalam kurun waktu 30 tahun dibahas.
Mulai dari mengenai para Jenderal yang mengamankan langkah pak Harto, intrik-intrik politik antar Jenderal dalam "merebut" hati pak Harto hinggal loyalitas membabi-buta terhadap pak Harto yang berakhir dengan ironis. Kekuatan narasi dan analisa politik dalam buku ini yang (bagi saya pribadi) hasil kemampuan men-sari-kan kejadian serta informasi hasil koneksi Salim Haji Said terbukti dapat membuat 379 halaman terasa seperti sesingkat cerpen.
Sebagai penutup, buku ini dapat dijadikan preambule bagi seseorang yang ingin memahami bagaimana Presiden Soeharto melanggengkan kekuasaannya selama 30 tahun sebelum membaca buku lain yang lebih detail membahas hal tsb.

Kelebihan :

Kedalaman adalah hal pertama dan utama yang perlu saya puji dari buku ini. Opini yang terlontar dari masing-masing tokoh yang masih terasa sekali emosinya, hasil wawancara, catatan-catatan terhadap peristiwa terkait setiap tokoh membuat apa yang disampaikan Salim Haji Said dalam buku ini sangat terasa detail dan dalam


Kekurangan :

Bab pertama buku ini mengenai 3 Jenderal "King Maker" yakni Kemal Idris, HR Dharsono, Sarwo Edhi hingga Bab kedua mengenai Jenderal Jusuf terasa sedikit meloncat dari timeline yang penulis tahu. Era relasi pak Harto dengan Jenderal Kemal Idris - HR Dharsono - Sarwo Edhi (sependek pengetahuan penulis) adalah tahun 1966-1968 sedangkan relasi dengan Jenderal Jusuf di kisaran 1974 an sehingga penulis merasa perlu ada bab yang disisipkan untuk mengisi gap antara tahun 1968 hingga 1974.

Kutipan Favorit : 
"Bapak (Presiden Soeharto) itu sebenarnya Raja, tapi sekarang istilah Raja tidak dipakai lagi. Yang dipakai Presiden saja"

Gratitude Journal of Bapak Dua Anak #17 : Syukur dan Rasa Cukup

Sudah satu minggu ini saya sedikit menambah doa saya selepas selesai sembahyang. Dari "Tuhan jadikan saya Farah Fleur Finix menjadi ora...